[1 : 365] Mencari Titik Keberhasilan

Benarkah bahwa makin cerdas, maka makin pandai kita menemukan kebenaran, makin benar maka makin baik pula perbuatan kita? Apakah manusia yang mempunyai penalaran tinggi lalu makin berbudi, sebab moral mereka dilandasi analisis, ataukah malah sebaliknya makin cerdas maka makin pandai pula kita berdusta?

Perhelatan akbar di dunia pendidikan sedang digelar oleh pemerintah kita, akhir bulan April sampai bulan Mei para siswa dihadapkan dengan soal-soal yang harus mereka jawab dengan benar. Benar, artinya betul (tidak salah); lurus; adil. (Poerwadarminta, 1985:116). Cukup tiga hari untuk menentukan tingkat keberhasilan. Padahal mereka (baca: pelajar) belajar di bangku sekolah selama tiga tahun, bahkan di sekolah dasar, mereka belajar selama enam tahun (kalikan sendiri, pusiiing). Jika gagal di 3 hari itu maka selama 3 X 365 hari dianggap gagal pula. Tragis.

Ujian sekolah yang hanya menitik beratkan pada prinsip bahwa satu pertanyaan punya satu jawaban benar. Pendekatan jawaban yang ’benar’ telah tertanam begitu dalam di pikiran mereka. Mungkin baik untuk masalah matematis dan material to be memorized yang punya satu jawaban yang benar. Padahal kebanyakan persoalan hidup tidak berperilaku demikian. Kehidupan bersifat ambigu; ada banyak jawaban yang benar, semua bergantung pada apa yang kita cari. Aku sendiri sangat yakin bahwa ada dua golongan yang lolos ujian dengan mudah. Pertama, mereka yang pandai menjawab dengan benar dan kedua, mereka yang pandai [mencari] jawaban yang benar. Lalu, bagaimana dengan yang tidak pandai menjawab dengan benar dan tidak [mencari] jawaban benar? Aku yakin mereka akan sangat-sangat berharap keajaiban. Keajaiban akan lolos ujian. Semoga mereka mengerjakan soal ujian dengan suasana hati yang menyenangkan. Maaf kepada semua guruku, jika tulisan ini memang BENAR.

Amenangi jaman edan. Ewuh aya ing pambudi. Melu edan ora tahan. Yen tan melu anglakoni. Boya kaduman melik. Kaliren wekasanipun. Dilalah kersa Allah. Begja-begjane kang lali. Luwih begja kang eling lan waspada.

Ranggawarsita (1802-1873)

Mengalami jaman edan. Kita sulit menentukan sikap. Turut edan tidak tahan. Kalau tidak kebagian. Menderita kelaparan. Tapi dengan bimbingan Tuhan. Betapa bahagia pun mereka yang lupa. Lebih bahagia yang ingat serta waspada.

(T’rima kasih sdr. Herman I. Waluyo)

artikel terkait :

  1. Mau Bodoh Kok Bayar
  2. Emang Benar
  3. Emang Ada Belajar Yang Benar?

[Awal]

3 Tanggapan to “[1 : 365] Mencari Titik Keberhasilan”

  1. Ketika IQ jadi panutan… EQ diabaikan. Apalagi RQ…
    Jadinya… manusia-manusia tak bermoral dan beremosi tinggi menduduki puncak pimpinan….

    Makasi ya..boleh nimbrug…
    Mampir dong ke rumahku… http://maaini.wordpress.com

    He..he3 :-) Penginnya sih pendidikan kita berwawasan IQ, EQ, SQ. Mudah2-an terwujud ya Bunda.

  2. [...] Revolusi Cara Belajar Putus Sekolah Boleh, Asal Tidak Putus Belajar « [1 : 365] Mencari Titik Keberhasilan [...]

  3. .:: makin cerdas maka makin pandai pula kita berdusta? ::.

    seorang teman pernah berkata “Memang, makin pinter seseorang, makin pinter juga dia berkelit dan mencari pembenaran”
    bukan mo memplokamirkan diri sebagai orang pinter n’ cerdas sih :-) -meski mau bangetz..-, tapi rasanya kok saya sering juga boong yaa… :-(

    adakah yang tak pernah berbohong?

    Ada

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: