Tengak-Tengok Melongok-longok

Sekedar melepas kepenatan, ku coba menghentakkan jari ke tuts keyboard. Untuk menuliskan judulnya saja terkesan ala kadarnya. Ora opo-opo. ngga’ masalah. Yang penting tidak sekedar tengak-tengok melongok-longok.

Fariduddin Attar bangunlah pada malam hari
Dan dia memikirkan tentang dunia ini

Ternyata dunia ini
Adalah sebuah peti

Sebuah peti yang besar dan tertutup di atasnya
Dan kita manusia berputar-putar di dalamnya

Dunia sebuah peti yang besar
Dan tertutup diatasnya

Dan kita terkurung di dalamnya
Dan kita berjalan-jalan di dalamnya
Dan kita bermenung di dalamnya
Dan kita beranak di dalamnya
Dan kita membuat peti di dalamnya
Dan kita membuat peti
Di dalam peti ini……

( Taufik Ismail Membaca Puisi, Taman Ismail Marzuki, 30-31 Januari 1980, hal 23)

Manusia tak henti-hentinya terpesona menatap dunia; menjangkau jauh-jauh ke dalamnya tapi tak tau apa yang mereka cari. Mondar-mandir, kesana-kemari, wira-wiri, riwa-riwi, ngintap-ngintip, tengak-tengok, melongok-longok dan akhirnya bertanya apakah hakikat kenyataan ini sebenar-benarnya? Banyak orang menggunakan akalnya untuk mengakali orang, Banyak orang gaul untuk menggauli orang, banyak orang kaya untuk memperkaya hutangnya, Banyak orang gagah menggagahi nalurinya dan Banyak orang gila menggilai hal ini. Yoo…. wiiiis…ben. Manusia akan kembali ke Sang Maha Guru.

3 Tanggapan ke “Tengak-Tengok Melongok-longok”

  1. Mencari ‘dirinya’ dulu dong di dirinya, kalau gagal … baru …

    Matur suwun pak, pencerahannya. sekarang lagi di Jakarta ya?

  2. Yang logis(tik) aja, hidup adalah how to survive..

  3. suhadinet Berkata

    To Gadis
    “Wah, gak selalu harus begitu dong Mbak Gadis
    Kita ini kan makhluk sosial juga, harus hidup berdampingan dong..
    Salam kenal ya Mbak Gadis..”

    To nyang punya rumah..
    Pingin ya bisa keluar dari kotak sekali-sekali
    Ada apa di luar sana?

    Hi..hi…hik :-)
    belum pingin pak.

Leave a Reply