Belajar Dari Sekeping Uang Logam
Pernahkah anda meraba uang logam secara detail pada kedua sisinya? Dan apakah anda pernah melihat uang logam hanya bergambar/bercorak pada satu sisi saja?
Di tengah sesaknya penumpang KRL, terdengar sayup-sayup alunan sebuah lagu. Yang tadinya ada canda, suara pedagang asongan, celotehan penumpang tiba-tiba terpecah oleh alunan suara tadi. Memang terdengar merdu dan sangat nyaman diterima oleh telingaku. Lambat laun hanya suara itu yang menggema di sudut kereta. Tepat dihadapanku, seorang ibu digandeng anaknya. Hanya diiringi petikan gitar, si ibu bernyanyi dengan pandangan kosong menatap kedepan. Tenyata si ibu seorang tuna netra. Matanya tidak bisa melihat tetapi hatinya bak jendela dunia. Hatiku tergoda oleh suara khas si ibu, berusaha mencari uang di saku dan memang, masalah rezeki sudah ada yang mengatur. Uang logam seribu rupiah aku berikan kepada ibu tadi. Sambil bernyanyi si ibu membolak-balik uang logam yang aku berikan. Tidak bisa melihat tapi tau dengan indera perabanya bahwa uang logam tadi dipastikan seribu rupiah. Apakah untuk mengenali uang logam harus diraba pada kedua sisinya? Aneh. Mengapa pertanyaan seperti ini harus aku pikirkan?!.
Setelah turun dari KRL, ada satu pertanyaan yang harus aku selesaikan dan harus bertanya kepada si pembuat pertanyaan, seorang tuna netra. Sembari istirahat aku coba bertanya kepada seorang tuna netra.
Maaf Bapak (tuna netra), Kenapa bapak selalu meraba uang pada kedua sisi untuk mengenali uang tersebut, bukannya cukup hanya sebelah saja?
Adik cukup beruntung dan syukurilah nikmat-Nya, karena adik bisa mengenal tanpa meraba karena adik diberi kelebihan dapat melihat. Tanpa meraba bapak tidak bisa mengenali uang itu asli apa palsu, kalo toh hanya sebelah yang bapak raba, keaslian uang itu belum bapak kenal, jadi harus kedua sisi yang di raba. Adik pernah dengar sebuah kalimat; dua sisi uang logam nggak akan pernah nyambung karena berada di dua sisi berbeda? Tapi bapak ingin sekali adik menjadi sekeping uang logam yang mempunyai dua sisi yang memang tak dapat dipisahkan dan bernilai. Dunia dan Akhirat, Lillahi Ta’ala.
Tidak Ada Logikanya Mengasihani Orang Buta Karena Tidak Bisa melihat
Mei 26, 2008 pada 6:58 am
hmm… saya jadi merasa sangat bersyukur atas apa yang saya miliki saat ini
Mei 26, 2008 pada 9:03 am
tak berlogika mengasihani orang buta karena tidak bisa melihat……. lalu mengapa ngasih uang???
Mei 26, 2008 pada 10:00 pm
Ini cerita rekaan atau beneran? Kalau begitu sangat bijaksana si Bapak yang tunanetra itu. Darimana dia belajar ilmu filsafat seperti itu ya?
Mei 27, 2008 pada 5:43 am
^_^ Bukanlah mata tersebut yang buta, namun yang telah buta adalah hatinya. Hingga ia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mudah-mudahan segenggam hati yang ada pada jasad kita senantiasa dalam keadaan baik, sehingga membawa kebaikan bagi seluruhnya. Salam kenal.
TRIMS
Mei 27, 2008 pada 6:42 am
Subhanallah, sebuah pembelajaran yang sangat indah. Kadangkala sebuah kebijaksanaan lebih mudah kita temukan pada ‘orang-orang biasa’. Bila kita jeli dan mau mencari, dalam sekilas pertemuan di sebuah perjalanan-pun kita bisa temukan itu. Mudah-mudahan kedua sisi kehidupan kita, dunia-akhirat, sama-sama indah.
Mei 27, 2008 pada 9:05 am
wih… ternyata pelajaran hidup bisa didapat dimana saja… never thought about it before… ternyata oh ternyata…
Mei 27, 2008 pada 11:50 am
Menarik cara pengungkapannya … ya kita (dapat) belajar dari apa saja, dari apa saja …
Mei 27, 2008 pada 6:43 pm
subhanallah, sungguh luar biasa…
Yang jelas jika kita mengejar akhirat, maka duni akan mengikuti..
insyaAllah aku add juga di blogGor y mas….
Wassalam
Mei 29, 2008 pada 6:05 pm
“Adik pernah dengar sebuah kalimat; dua sisi uang logam nggak akan pernah nyambung karena berada di dua sisi berbeda?”
“Tapi bapak ingin sekali adik menjadi sekeping uang logam yang mempunyai dua sisi yang memang tak dapat dipisahkan dan bernilai”
persepsi dan cara pandang seseorang dg yg lain bisa sama, berbeda, atau bahkan bertolak belakang. sama seperti saat kita melihat dan memaknai dua sisi uang logam.
berbeda dan bertolak belakang bukan hal yang salah, tapi bisa membawa ke situasi yang bermasalah jika tidak dipahami oleh dua orang atau sekelompok org yg memiliki persepsi & cara pandang berbeda. Karena itu dibutuhkan tabayyun, konfirmasi, klarifikasi, kejujuran, dan yang penting kemauan dan kemampuan untuk menerima hal yang berbeda.
Mei 31, 2008 pada 6:05 am
terima kasih dan bersyukur atas apa yang kita terima dan apa yang kita gunakan….
Juni 11, 2008 pada 7:56 am
Memang, cakrawala yang luas, dinamika masyarakat adalah ruang-ruang sekolah kita. Semua di luar diri kita adalah guru kita….Hingga dalam puncak kenikmatannya kita menyempurnakan pembelajaran kita dengan juga mengajarkan, mengembangkan…entah apa itu istilahnya.
Juni 16, 2008 pada 4:47 pm
Salam..
Orang Bijak berkata; Perbedaan diantara kalian adalah rahmat…
Pertanyaannya ialah ” bagaimana perbedaan itu dapat menjadi rahmat”
….melihat kondisi yang ada sekarang…
salam..
Juni 21, 2008 pada 10:34 pm
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Amateur!!!
Desember 26, 2008 pada 10:21 am
[...] cerita : Belajar dari Sekeping Uang Logam | Kacamata [...]
Desember 26, 2008 pada 11:22 pm
wah, kapan ya aku bisa jadi dua sisi yangbernilai bagi orang laen. Lha tiap saat ngeselin ..
Januari 25, 2009 pada 4:28 pm
Pengalaman yang sangat berharga nie … trims sudah berbagi
Januari 28, 2009 pada 6:27 pm
Hidup ini bagai mata uang. ada sisi baik dan ada sisi buruk. Nah… bagaimana qt menyikapinya ?