Bayar berapa?
Ternyata sebagian masyarakat kita untuk urusan biaya pendidikan di sekolah pada era posmo cenderung masih itung-itungan dan terkesan “kurang sadar” akan tanggung jawab yang di emban sekolah. Berbeda ketika mereka yang cukup mampu “menitipkan” anaknya pada lembaga-lembaga pendidikan informal. Mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel) sekedar untuk meningkatkan prestasi dan lolos ujian, ikut les musik/tari hanya untuk mengejar bakat. Tak lain mereka hanya menuruti keinginan guna “menciptakan” anak yang dianggap mumpuni (kompeten), dan tidak segan-segan mengeluarkan biaya yang lebih. Wajar, lumrah, dan sah-sah saja kan? Lha ….. itu uang-uang mereka sendiri, buat kemajuan anaknya sendiri, kenapa kita yang harus ribut? Kalo beranggapan “ini uangku sendiri” berarti boleh donk aku berkomentar tentang fenomena ini, lha wong “ini tulisanku sendiri” kok. Meminjam perkataan anakku ; “Ya udah, kalo gitu SETERAH Ayah deh”. Begitulah anakku jika “sebel” denganku. Hikk…..hikk…hikk…
“Peperangan” ini bermula ketika masyarakat kita sudah merasa terbebani dengan biaya pendidikan di sekolah. Sejak anak masih dalam kandungan, orang tua sudah menganggarkan biaya untuk sekolah anaknya, menabung atau mengikuti asuransi pendidikan. Tidak sedikit yang beralasan bahwa Bersekolah adalah tuntutan hidup, mendapatkan gelar, untuk menaikan derajat dan martabat bahkan hanya untuk meraih cita-cita saja, terus apa lagi ya? He….he…he… tambahin deh. Beda dengan masyarakat marginal yang hanya nrimoh (red; menerima/pasrah) untuk hidup sehari-hari saja sudah pas-pasan bahkan kurang. Ujung-ujungnya bagi keluarga miskin, putus sekolah merupakan konsekuensi logis yang mereka terima.
Sebagian masyarakat yang merasa mapan seolah-olah menutup mata bahwa dengan membayar kebutuhan yang dikehendaki sekolah, mereka sudah cukup menyerahkan anaknya tanpa ada perhatian khusus dan kontrol di lingkuangan keluarga. Hal ini di perparah dengan masyarakat yang suka menawar layaknya membeli ikan asin di pasar. “Berapa bu harga ikan asin seperempat kilonya, dua ribu ya? Bolehkan?” Padahal mereka bisa membeli dengan harga 3000 rupiah seperempat kilonya. Apakah demikian dunia pendidikan kita? Dahsyatnya lagi, pemerintah telah mealokasikan dana APBN 20%. konon katanya rawan bahaya. Apa Iya?
Oktober 23, 2008 pada 1:41 am
mari bersinergi mewujudkan perbaikan.
Oktober 23, 2008 pada 3:38 am
yuk bagi bagi ilmu
seperti halnya barang / jasa
semakin banyak ilmu yg diberikan secara gratis, maka harga untuk pendidikan juga akan semakin turun
Oktober 23, 2008 pada 3:53 am
Yup
ayo bergerak tuk berkontribusi dalam perbaikan
Oktober 23, 2008 pada 5:52 am
Menyekolahkan anak adalah tugas orangtua, jangan hanya menyuruh anaknya giat belajar tapi begitu si anak minta sekolah di tempat yang terbaik, orangtua angkat tangan karena kendala biaya. Pendidikan untuk anak harus menjadi prioritas utama kebutuhan keluarga, selain sandang , pangan dan papan
Oktober 23, 2008 pada 6:36 am
Kalau ga mampu nyekolahin anak di Sekolah Umum, ajarin aja di rumah dg Home Schooling, toh sudah diakui… Orang yg Sekolah Umum aja malah ada yg tawuran, geng, freesex, narkobe. Yg ga terkena itu pun pas lulus ditanya, kamu punya kelebihan di bidang apa? Tidak sedikit yg bengong. Artinya ga menjamin lah sekolah di Sekolah Umum mah…
Namun demikian, tidak berarti Sekolah Umum jelek. Makanya sinergi antara ortu dan guru perlu. Juga sinergi diantara ortu murid… yang kaya bantu yang miskin… seperti di salah satu SMA di Bandung (kata temen saya yg kakaknya SMA di Bandung ortu kaya nyumbangnya gede, yg ortuinya melarat malah bisa ga bayar….)
Oktober 23, 2008 pada 7:32 am
no komen…
Oktober 23, 2008 pada 9:23 am
ahhh … namanya aja kapitalisme …
Oktober 23, 2008 pada 10:40 am
rawan bahaya adalah kalau melihat bagaimana itu budaya yang ada di sebuah sistem yang bernama birokrasi pemerintahan itu mas…
semua yang mengandung unsur duit iz selalu rawan..wan..wan..wan…
Oktober 23, 2008 pada 11:38 am
aku rasa diindonesia terlalu banyak yang harus diperlajari disekolam umum.
sehingga anak terlalu banyak terbebani dan biaya juga otomatis tinggi, semua perlajaran harus dipelajari, dan semua harus bisa. kalo gak , tidak lanjut. karena targetnya semua masuk pns. beda kalo dari kecil anak udah kelihatan bakat misal di matematika dan suka berhitung, udah konsen aja disekolah matematika, urusan bahasa asal bisa baca dia akan belajar sendiri, sesuai kebutuhan, masalah moral di a bisa belajar dari lingkungan/ortu, cuman ada gak informasi sekolah khusus seperti itu … bayangkan bila pada umur 20 anakku yang suka matematik ini bisa jadi profesor…..seorang ahli matematika, juga mungkin ada contoh lain anak yang hobby tari atau drama/akting…..dipaksain matematika atau fisika, jadinya yaa kayak yang diatas… jebol&celeng aja.
Oktober 24, 2008 pada 11:09 am
kalau belum cukup uangnya, ya memang harus itung2-an mas.. lagipula preman masuk sekolah pun kan menerapkan biaya tinggi tuh..
Oktober 24, 2008 pada 2:33 pm
pemerintah mengalokasikan 20 % APBN untuk pendidikan yang diklaim sebagai tertinggi sepanjang sejarah hingga dijadikan salah satu iklan parpol asal presiden sekarang.
di atas kertas, sepertinya memang membanggakan. sayangnya, dalam pelaksanaan tak seindah gembar gembor di media massa. masih sangat banyak siswa yang tak mampu membayar iuran sekolah, sementara murid dari kalangan mampu tetap menerima ‘jatah’ subsidi seperti BOS. (dan tak banyak yang memperhatikan siswa dari kalangan ini…
)
jadi memang benar-benar rawan bahaya!!
***
tapi pak, karakter masyarakat kita ini unik loh…
memang sih ada yg banyak melakukan tawar menawar biaya pendidikan anaknya di sekolah formal. Tapi ada juga yang bangga dengan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk si buah hati. Ups, bukan karena mereka rela melakukan segalanya untuk pendidikan anak, tapi hanya untuk memuaskan ego pribadi orang tua. Ato, agar ada bahan obrolan saat ngerumpi di salon, di coffe shop, pengajian, juga ketika arisan.
“Eh, pendidikan sekarang mahal ya…iuran anakku Rp 2 juta per bulan loh jeng!, padahal masih SD!
“Oh ya?! di sekolah manna?….tapi itu masih mending jeng…aku sampe puyeng tujuh keliling karna harus ngeluarin 3 jeti untuk SPP, belum untuk kegiatan ekstrakurikulernya, les privat, waaaah….kalo ditotal bisa seperlima gaji suamiku
”
waduh, mohon maaf kepada bapak pemilik blog…ngerumpinya kepanjangan yach…
salaam
Oktober 25, 2008 pada 1:38 am
20 persen rawan? Ah, itu cuma alasan sebagian orang untuk mangkir dan melanggar undang-undang dasar. Kapan lagi kita mau maju? Naikkan juga biaya pengawasannya.
Oktober 28, 2008 pada 5:58 pm
Kalau kita pake Windows pasti bakal ketemu opsi memilih penampilan terbaik, kinerja terbaik en biarin komputer yg memilih. . . . . .
Sayangnya institusi pendidikan dinegara kita kebanyakan lebih suka memilih penampilan terbaik yg lengkap dgn segala animasinya.
Sepatu diseragamin sampe kaoskaki, ikat pinggang segala. . . . buku paket tiap tahun ganti meski substansi masalah yg dibahas hampir sama, kurikulum sering berubah format, gedung dipoles terus en dilengkapi pakai AC. . . . . . . ,sampe namapun digonta ganti, SLTA, SMA, SMU. . . . . . . .
Barangkali bisa neh dipopulerkan sekolah lesehan, yang dgn ketiadaan bangku, AC, gedung, pak bon, satpam. . . . . .jelas sudah mengurangi cost produksi.
Para murid boleh pake apa saja pokok sopan, sarungan, pake kemeja, pake tshirt, pake kebaya. . . . . . . Hmm, cost seragam sdh bisa dipangkas.
Desember 17, 2008 pada 10:10 pm
[...] Bisa di baca disini : UUSPN | PP Standar Nasional Pendidikan | bayar Berapa? [...]