(Bukan) Penulis Yang Baik
Penulis, siapa yang berhak menyandang predikat sebagai seorang penulis? Anak TK yang lagi belajar menulis Alphabet, sekretaris/karyawan administrasi kantor, notulen pada seminar, penulis naskah film/novel/lirik lagu, blogger, atau seseorang yang menoreh tintanya di dalam buku diary bahkan mungkin yang ada hubungannya dengan tulis-menulis itulah yang disebut penulis? Yang dapat memberikan pencerahan tentang prolog diatas silahkan koment, bebas tanpa batas yang penting punya TASTE. (pariwara dikit kek di tipi, hik….. hik…hik…)
Bukan penulis yang baik, itulah yang aku rasakan selama menulis kalimat demi kalimat di blog ini tapi perasaan ENJOY AJA X yang dapat mendorong untuk tetap nge-blog. Jangan diteruskan jika ilustrasi di bawah ini menyedot brenwit anda.
Mengapa aku bukan seorang penulis? Pertama, lihat screen shot, untuk menulis beberapa kata di ms-word saja membutuhkan – + 3 jam. Kalau memang aku seorang penulis, mungkin hanya membutuhkan 15 – 30 menit saja. Benar khan? Tapi, screen shot statistik itu bisa ”berbicara” ulang. Mulai menulis jam 12.44 AM selesai jam 03.00 AM dengan revisi total 8 x. Dalam kurun waktu sekian jam, ngapain aja? singkat kata, ternyata dalam rentang waktu itu, aku merem-melek. Rasa penat dan ngantuk tidak dapat di bendung lagi. Mungkin inilah yang dinamakan suasana dan setting kurang mendukung. Kedua, jika anda membaca sekilas, dua kilas tulisanku terdahulu mungkin atau memang nadanya terasa sumbang/fals, bahkan tak enak untuk di lantunkan. Contoh, membuat judul aja terkesan asal-asalan ”Maaf, Aborsi Politik”. Leech ( Principles of Pragmatic, 1983;119) dalam Pendidikan Berbahasa Santun yang di tulis oleh Dr. H. Sofyan Sauri menyebutkan bahwa Prinsip berbahasa santun merupakan susunan bahasa yang didasakan atas 1) Maksim kearifan (tact maxim), yaitu memperkecil kerugian pendengar, memperbanyak keuntungan pendengar (selanjutnya pendengar = pembaca. 2) Maksim meta (meta maxim), yaitu jangan menempatkan orang lain dalam suatu posisi dimana mereka harus menghancurkan tact maxim, 3) Maksim kedermawanan (generosity maxim), yaitu memperkecil keuntungan sendiri, memperbesar keuntungan pendengar. 4) maksim pujian (approbation maxim), yaitu memperkecil keluhan pendengar, memperbesar pujian pendengar. 5) Maksim kerendahan hati (modesty maxim), yaitu memperkecil pujian diri, memperpesar perendahan diri. 6) Maksim kesepakatan (agreement maxim), yaitu memperkecil ketidaksepakatan antara diri sendiri dengan orang lain, memperbesar kesepakatan antara diri sendiri dengan orang lain dan 7) Maksim simpati (sympathy maxim), yaitu memperkecil antpati antara diri sendiri dan orang lain, memperbesar simpati antara diri sendiri dan orang lain. Wis titik.
Grice (Logic and Conversation, 1975;47) dalam buku yang sama nambah dikit, tutur kata yang santun adalah tutur kata yang menarik. So, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa aku bukan penulis yang baik jika anda menghubungkan dengan analisa Pakar di atas. Hik…hik…hik… pengin nangis nih.
Ketika aku ngga’ percaya diri sebagai penulis, ada angin segar yang selalu berhembus. Sempat berpikir sendiri ketika memberi komentar di blogor (Komunitas Blogger Bogor), namaku ada tanda kurungnya (Author). Berarti aku…….. Kalo bisa menghapus koment itu, detik.com itupun aku hapus, abis malu ama author-author yang lain. Hembusan udara yang mengalir secara semilir selama ini membuat aku tetap ketak-ketik di atas keyboard. Kalo ngga’ ada aral, Insya Allah bersua di Pesta Blogger.
Ada hubungannya dengan : Ternyata Bahasa Ku Susah Dipahami

November 18, 2008 pada 3:13 pm
“Mulai menulis jam 12.44 AM selesai jam 03.00 AM dengan revisi total 8 x. Dalam kurun waktu sekian jam, ngapain aja? singkat kata, ternyata dalam rentang waktu itu, aku merem-melek”
mo komen nich pak, bukan tentang “penulis yang baik”
soalNa, dirikyu juga lagi belajar jd penulis
cuman itu loh, nulis dr jam 12.44 AM sampe 03.00 AM, pake merem-melek lagi… Gak cape to?
mending tidur x,
trus, kok ya sempet2Na nge-save historis yg bwt ilustrasi itu
aq aja, nggak tau tempatnya dimana
gaptek bener yach?
November 18, 2008 pada 3:49 pm
emang tulisan yang bagus tuh yang gimana se ?
November 18, 2008 pada 7:01 pm
ah… kalau kriterianya soal waktu, gak adil lah. Karena di antara waktu itu kan, bisa saja cari ilham dari browsing, cari literatur, nunggu mood, dll. Banyak banget yg mempengaruhi, terutama mood itu (yg tak bisa diukur oleh apapun kecuali diri sendiri). Buat saya penulis adalah mereka yg menghasilkan sebuah tulisan yg bisa dimanfaatkan orang lain, apapun bentuknya..
Jadi, tetap lah menulis..(apapun sebutannya)
November 18, 2008 pada 9:08 pm
hi..hi..walopun bukan penulis yang ok, tapi dikau ayah yang ok buat nanda..
suami yang ok juga ga ya..? ya iyalah…
btw, temen2 bunda suka komentar wah..pak gama ternyata bisa nulis juga ya..? Pantesan istrinya…eh anaknya juga pinter..Ha..ha
November 18, 2008 pada 11:18 pm
menurut Leech, boleh juga tuh
November 18, 2008 pada 11:41 pm
penulis adalah orang yang menulis, dan itu baik
November 19, 2008 pada 12:06 am
@ dewi :
wah penulis pemula di koment ama penulis beneran nih. Pake bawa2 gaptek lagi.
@ sha : waduh… seorang calon jurnalis malah nanya ama yang baru belajar nulis dengan bahasa medhok
@ kucingkeren : ok tetap nulis, apapun sebutannya.
@ ananda : waduh… si kecil ikut koment
@ yusuf : saran Leech juga boleh diikuti kok
@ gubrik : SIIP, tetap semangat menulis.
November 19, 2008 pada 6:18 am
saya malah masih belajar menulis
November 19, 2008 pada 10:48 am
kalo dirinu nulis cepet
ngoreksinya yang lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
November 19, 2008 pada 12:13 pm
menulis untuk dimengerti yang sulit
November 19, 2008 pada 5:48 pm
Coba baca cerita fiksi pertamaku di blog yang baru ini
http://cucuharis.wordpress.com/2008/11/19/bunga-cinta-yang-terbenam-fiksi-bag-1/
Bahasanya apakah bisa dipahami?
November 19, 2008 pada 6:54 pm
Ayo kita belajar nulis! Hehe..
Menjadi penulis yang baik itu diawali dengan menghargai tulisannya sendiri. (itu kata teman saya)
Salam kenal y..
November 19, 2008 pada 7:11 pm
@ annosmile: ketika kita beranggapan masih belajar menulis, itulah pangkal kita jadi penulis
@ suwung: ha….ha…ha….
kek mo ujian aja kang
@ mutiara : penginnya begitu, tapi lama2 kita tau sisi mana yang tidak diketahui orang lain dari tulisan kita.
@ achoey : segera meluncur kang
@ aviana : lah…. kok kata temen saya.
mengomentari/apresiasi tulisan itu diawali dari komentar sendiri ( itu kata teman saya)
November 19, 2008 pada 9:41 pm
salam kenal dulu ya kang.
wah, bisa banged merendah, padahal tulisannya oke, blognya juga oke. hihi.. klo saya sih biasa pake kata menulis yang dipikirkan bukan memikirkan apa yang mau ditulis jadi ya apa aja tulis aja hihi
November 21, 2008 pada 12:14 am
ha… ha… ha…. bisa aja cumie.
sebagai bahan referensi mungkin bisa di baca disini
http://www.belajarmenulis.com/karakter-seorang-penulis#more-211
November 23, 2008 pada 12:10 pm
sependapat dengan mas gubrik, penulis itu ya menulis. halah bingung aku
November 25, 2008 pada 3:06 pm
nulis, merangkum kata dan bermakna itulah penulis
Desember 1, 2008 pada 7:36 am
Menurutku sih gak usah mikirin istilah. Bukankah dunia blog itu dunia bebas. Nulis aja apa yang ingin kita tulis, semampu kita. Biarkan pembaca yang menentukan apakah yang kita tulis layak dibaca atau tidak.
Yang penting ada kemauan untuk terus belajar!
Januari 17, 2009 pada 11:25 am
[...] nyrempet-nyrempet dengan yang ini : (Bukan) Penulis yang Baik | Bahasaku Susah [...]