Gadisku
Tiba-tiba dia meninggalkanku tanpa sebab, suara dan aksara pun tak terucap di akhir sapaan. Tak acuh dengan sekeliling, apalagi denganku. Tak terkecuali angin yang berhembus menyibak rambut tergurai panjang dibuatnya heran. Ada apa dengan gadisku.
Secara aku tak sadar, bila bibir diam membisu, hati pun memiliki seratus lidah. Apa hendak kata, gadisku memilih yang dirasakan hatinya. Kurasa cukup untuk memperhatikannya terlalu berlebihan, mata yang begitu indah. Buah jatuh tidak jauh dari pohon, siapa gerangan ibunya.
Mendekat dengan mata sayu, sepertinya dia ingin mencari perhatian. Mengambil sesuatu dan dijatuhkannya di dekat kakiku. Ku lihat air yang membasahi bibir dibarengi dengan tetesan air dari keningnya terasa lelah keseharian bercengkerama dengan alam.
Hendak mencium keningnya, dia mengelak, rasa hati merasa bersalah. Buku bersampul merah muda dan boneka kesayangannya di rebahkan tepat di sisiku. Selimut didekap. “Ayah cerita ya,”Ucap gadisku dengan terbata-bata.
Ku lirik dia, bibir mungil berucap doa mengiringi tidurnya. Sungguh besar karunia-Mu Ya Rabb. Belum 5 menit dia tertidur di alam mimpinya, tiba-tiba gadisku berucap,”Ayah, Ananda Gadis Sayidina itu apa sih artinya.” Dan gadisku kembali tertidur dengan benang cahaya terpancar di senyum manisnya.
Salam namakuananda
Juli 2, 2009 pada 11:34 pm
oughhh..putrimukah kawan..??
-salam- ^_^
Juli 7, 2009 pada 11:52 am
hehehe… yoi mas