Yang Suka Bertanya, Guru apa Murid?
Pagi ceria. Tegur sapa – berjabat tangan. Meluangkan waktu sejenak sekedar say hello pada beberapa rekan kerja mengulang cerita-cerita kecil. Duduk santai meregangkan otot kaki sembari merapikan catatan kerja. Tekan tombol power Kompi. Siap beraktifitas. Uenak tenan kerja kek gini.
“Pak, boleh saya bertanya sebentar?”
“Lho, kek guru aja pake acara bertanya segala”
“Iya, saya khan murid, Bapak khan guru saya.”
“Lah… bukannya guru yang suka bertanya pada muridnya.”
Sepenggal dialog rekan kerja dengan ku di pagi itu. Guru dan Murid, dua sosok yang kerap kali disebut sebagai subyek dan obyek di dalam kelas. Guru sendiri sering dikenal sebagai sosok profesional bertugas mendidik, melatih membimbing, menilai dan mengevaluasi murid atau peserta didik. Dalam proses pembelajaran (bukan pengajaran), interaksi keduanya saling melengkapi. Guru bertanya murid menjawab, murid bertanya guru menjawab, bahkan murid bertanyapun dapat di jawab oleh murid lainnya.
“Pak, bagaimana sih caranya membuat 3 Dimensi di Program Autocad?”
“Sudah baca help nya belum?”. Biasa …. Sambil canda… namanya juga guru sableng. Tiap software pasti dilengkapi dengan fitur help untuk menuntun penggunaan fitur penunjang lain, kalo tidak ada atau kurang, berarti….ya…ya…ya
Sigkat kata, setelah bla…bla…bla… (‘seolah-olah’ tahu dan paham dari murid) cara membuat 3D dengan langkah cepat, tiba giliran sang guru (koreksi : aku) mengalami masalah. “Lho… kok gag mau di render?” (render, kalo gag salah : menghasilkan gambar akhir dengan memberikan tekstur, pencahayaan pada obyek) Eemmm…passti ada yang salah dengan langkah kerjanya. Kompi ini lambat banget sih?
“Pak, memang computer ini agak lambat, jadi harus ….sabar menunggu prosesnya.”
“Sabar menunggu prosesnya” memang jawaban yang paling memuaskan dalam hatiku.
Meminjam pepatah Prof. Hamka, “Alam terkembang dapat menjadi guru”. Yah…begitulah antara guru dan murid. Siapa yang menjadi guru, dan siapa yang menjadi murid. Proses pembelajaran saat itu sangat berkesan dan sekitar yang memberikan gejala/tanda menjadi saksi bahwa transfer of knowladge harus terbuka, membawa perubahan/perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik dalam kehidupan.
I Luv U Master Teacher
Juli 7, 2009 pada 8:50 am
Hohohoho, jadi sekarang guru yang bertanya sama murid ya
Juli 7, 2009 pada 10:11 am
kedua-duanya mesti suka, Nda
baru proses pembelajaran dialogis tercipta
(faviconnya tuh siapa, cakep bangets)
Juli 7, 2009 pada 10:18 am
Teman netter join, populer artikel dan cari sebanyak-banyaknya teman di http://www.infogue.com
http://pendidikan.infogue.com/yang_suka_bertanya_guru_apa_murid_
Juli 7, 2009 pada 11:58 am
@ Raffaell : hehehe… terkadang begitu mas, tapi sekarang lebih aktraktif dan interaktif
@ masedlolur : yup, bersetuju dengan hal itu Pak.
faticonne anakku wedhok Pak-e
Juli 7, 2009 pada 3:19 pm
Kalau semua orang terbuka dengan ilmunya…niscaya suasana kerja di kantor juga enak….maslaahnya kemampuan menangkap hal2 yang baru bagi setiap orang gak sama…..terkadang kalau mesti menrangkan berulang-ulang pusing juga yak…..
Juli 7, 2009 pada 3:49 pm
emang dari dulu itu sebenarnya guru yang suka bertanya sama murid bukan murid yang bertanya ama guru
ini buktinya
Juli 7, 2009 pada 3:51 pm
Harusnya sich seimbang antara guru dan murid…………..
Juli 7, 2009 pada 4:40 pm
seharunya antar guru dan murid itu ada diskusi..
Juli 7, 2009 pada 7:26 pm
itu namanya murid menjelaskan ke guru. emang begitu harusnya
murid2 saya sering nanya ga ada hubungan sama pelajaran sama sekali. misalnya: maam, kemarin di mall sama sapa hayooo????
Juli 8, 2009 pada 2:04 pm
wah itu kayaknya kurikulum KTSP ya,,,
klo ga salah cguru sebagai pembantu murid, bilamana murid tidak tahu,,,
Juli 11, 2009 pada 1:37 am
@ esha di birulangit : hehehe… kalo pusing malah bisa kerja, sante aja
@ Aden Kejawen : eemmm…. gag ada yang nanya, jadi ada kesempatan guru nanya duluan
@ Kuliah Gratis : yup… proses pembelajaran akan bergulir
@ kucingkeren : bersepakat dengan hal ini mbak, ‘tuk belajar
@ wyd : hahaha…. aku suka dengan ‘orang dekat’ seperti itu Bu, berani ‘bertanya’ walau mungkin jawabannya hanya cukup tersenyum
@ accan : Lho kok jadi pembantu seh…pembantu itu orang yang membantu kelancaran gitu ya? yo… wis lah
Juli 22, 2009 pada 9:05 am
Yah begitulah kenyatannya
Guru bertanya pada muridnya
Salam kenal mas
Juli 23, 2009 pada 10:47 am
blue mau tanya tentang tempat arisan bulan depan enaknya dimana yah bang hehehe..
salam hangat selalu
Agustus 2, 2009 pada 4:40 pm
Bertanya itu bagus banget. Cuman sayang, kitanya jarang bertanya ya. Kalok kasus seperti ini, namanya apaaan ya om
September 28, 2009 pada 9:32 pm
Guru suku bertanya, tetapi juga gemar menjawabnya sendiri. misalnya, guru membuat soal tes, guru juga sudah membuat jawabannya. mendengar dan bertanya bagi siswa harus diubah oleh sistem termasuk guru itu sendiri. he..he…
salam kenal, kunjungi blogku ya.. trims
Oktober 28, 2009 pada 10:52 pm
Kalo ga nanya bukan guru namanya.. lha wong kerja guru tu cuma nanya. 4+4 aja nanya, ama anak kecil lagi.. hihi..^_^