Arek Suroboyo [ JANCUK ]

Judul di atas sarkasme buangetz. Memang kasar, beruntunglah orang-orang yang tidak tau artinya. Masa kecil-dewasa hidupku di kalangan premanisme, jablaisme, joblessness, drunkard, tapi ustad dan santri juga banyak. Tidak jarang obrolan disisipkan kata ini. Sengaja aku memberi tanda [ …..] pada judul supaya aura negative tidak beterbangan (quarantine) di jagat maya ini. Untuk melanjutkan tulisan ini aku cukup memberikan inisial “J”.

Berawal dari mana dan kapan kata “J” di mulai aku-pun tak tau. Ketika orang merasa geli campur sewot mendengar kata ini, “J” menjadi inspirasi bagi kalangan kampus. Sebut saja ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya), tidak sedikit mahasiswa tersebut mengumbar kata-kata itu selagi ngobrol, bercanda, bersapa dan aktivitas lainnya. Setelah dipopulerkan dari mulut ke mulut, tidak sedikit mahasiswa bahkan kalangan pelajar menjadikan kata “J” sebagai inspirator dan motivator dalam belajar untuk meraih cita-cita. Sudah banyak jebolan ITS menduduki pucuk pimpinan instansi, organisasi, bahkan birokrat di negeri ini. Sebut saja Bapak Menteri Komunikasi kita.

Singkat kata, yang dimaksud oleh mahasiswa ITS kata “J” adalah (Jadilah Anak Negara Cerdas Ulet Kreatif). Bebas dan sah mengumandangkan slogan, selagi bermakna, mengapa tidak.

Untuk tulisan yang satu ini, mohon maaf jika melukai dan menodai pikiran anda.

MULUTMU HARIMAU MU.

9 Tanggapan to “Arek Suroboyo [ JANCUK ]”

  1. Hi2 dah jadi trade mark dan membudaya yah

  2. bunda Says:

    Ayah kehabisan ide ya ? kok nulisnya kaya’ gitu. Apa ngga’ etis tuh?

  3. Mengapa aku mengangkat tulisan ini?
    1. Terlepas dari sikap etis dan tidak. Kata yang mempunyai arti harus diterjemahkan agar setiap orang mudah memahami dan tau maksud penulis. Bahkan untuk kata kurang sopan ditelinga-pun harus diterjemahkan. Untuk kata diatas aku sendiri tidak berkompeten untuk menjelaskan, karena kosa kataku sendiri amburadul.
    Coba klik. http://jv.wikipedia.org/wiki/Jancuk
    Untuk wikipedia, tiap orang berhak untuk berdiskusi, menambah, bahkan mengedit. Bila anda senang menulis atau ahli bahasa, Bisakah anda menterjemahkan kata yang di anggap tabu dengan bahasa yang santun?

    2. Terilhami berita tentang fitnah seorang presiden di Negara tetangga, dengan hanya sebuah kata/kalimat hubungan sebuah Negara menjadi rumit. Bahkan kita juga mungkin sering rumit untuk menyusun / merangkai kata, supaya kita seolah-olah santun terhadap lawan bicara.

    3. Mengambil inisiatif terlebih dahulu [meskipun salah] lebih baik dari pada tidak, siap memperbaiki dan permintaan maaf.

    My inspiration; Bunda, mas Budi Waskito Pengarah Program Liputan 6, Lookman Kameraman Metro TV, Agoek Tim kreatif Bpk. Sutiyoso, dan De di MP.
    Ntar malem nonton layar tancap mas, OK.🙂
    Karo mbakar iwak. Mak Nyuss.

  4. “Kata yang mempunyai arti harus diterjemahkan agar setiap orang mudah memahami dan tau maksud penulis”

    dewi boleh cerita ya…agak panjang nih mas. (boleh ga boleh, poko’e nulis🙂 )

    Pertengahan tahun lalu, dewi diundang utk presentasi, menjelaskan tg salah satu komunitas yg dewi aktif di dalamnya. Di luar perkiraan, audiens adlh aremania yg dlm berkomunikasi dg sesama selalu disisipi kata J dan keluarga besarnya plus penghuni kebun binatang. Bahkan mereka memanggil rekannya dg J.

    whew!! klo bleh jujur, dewi bener2 shock tuh. mana dewi the only women (jd ga salah kan klo ada keinginan utk ngambek?🙂 ). Untungnya sih enggak, dan tetep presentasi meski harus mengubah gaya bahasa agar bisa diterima. klo diinget, ehmmmm…presentasinya well done kok –😀 , keluar narsisnya -.

    saat cerita ke temen yg biasa nongkrong sm mereka, malah diketawain.”Loh, menyapa teman dg J, menunjukkan klo mrk dah akrab banget. bukan kasar ato ga sopan seperti yg kamu pikirkan”.
    Nah, kata yang punya arti ternyata bisa dimaknai berbeda oleh saya dan mereka. Atau sebnarnya bukan pemaknaan yang berbeda, tapi ada eksplorasi arti kata yang lebih luas lagi. Di sini, persepsi, pola pikir, budaya atau lingkungan sepertinya berperan cukup besar.

    Sama seperti ketika saya (pernah) berucap kangen, yang sebenarnya tak cuma mewakili kata rindu dan ingin bertemu tapi juga ungkapan cinta. Tapi karena sebagian besar dari kita memaknai ‘kangen’ yaa sebatas kangen yang bisa diucapkan kepada siapapun, rekan, relasi, keluarga, maka eksplorasi makna “ala saya” tentu tak dapat dipahami oleh orang lain. (eits, bukan curhat loh mas…;-) ), tapi ilustrasi ini hampir sama dengan J yg dimaknai negatif oleh sebagian besar orang, dan dianggap biasa oleh sebagian kecil lain.

    Karena bahasa adalah produk manusia, maka penentuan tabu tidak tabu, etis tidak etis dari sebuah kata ya ditentukan oleh seberapa banyak pendukung masing-masing.

    Loh, kok dewi nulis ‘pendukung’? hehe3…maklum, barusan ngebicarain peta pilkada di Malang dan ada ajakan rekan utk mencalonkan diri sebagai caleg lewat PAN. ehmmm….lagi2, lingkungan sering mempengaruhi tata bahasa dan penggunaan kata….

    YESS !!! 🙂
    Kok masih ada “saya” -nya sih.

  5. Jadi ‘jancuk’ itu semakan rujak ya? (Sambil garuk-garuk kepala)

    Pak Haji bisa aja.🙂

  6. Hi..hi.. ada yang curhat di sini..

  7. salam kenal dari eko

    blog nya keren sudikah mampir ke blog nya eko

    http://eko13.wordpress.com

    makasih

    ma kasih

  8. Salam cuk juga .Aku juga kangen cuk .Kata- kata khas arek Suroboyo yang kental dipakai bagai segojangan. Salam kenal aja

  9. Bahasanya renya enak seperti kacang goreng . Asyik dan asyik dong Kali-kali lihat blogerku dong . Maaf ajaran.

    OK coy, aku langsung meluncur…..CUUIIINGG 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: