DIADANAKU

Alhamdulillah, anakku terlahir dari seorang wanita yang sangat aku kagumi dan dia sebagai navigator yang handal dalam menjelajahi hidup. 5 tahun sudah si kecil bermain, bercanda, belajar bersama dengan kami, banyak hal yang didapat dari tingkah lakunya. Kenakalan, pengin menang sendiri, kolokan adalah sifat yang tidak terlepas dari kehidupannya sebagai seorang anak. Memang kegiatan anak banyak dihabiskan dengan bermain, lain halnya dengan kita. Sebagian waktu kita sebagai orang dewasa tersita untuk belajar dan bekerja, jadi, kapan kita bermain? Filsuf Heraklitus, Plato menyatakan ” Hidup harus dijalani dengan permainan …”

Kembali ke huruf A-N-A-K. May I come to the class please, teacher? Suatu ungkapan kata-kata yang tanpa aku sadari muncul dari mulut si kecil (Ananda) yang mulai masuk TK. Berceloteh dan berkata apa adanya yang di dapat di kelas diucapkan dengan lafal yg agak kurang jelas secara spontan dimanapun dia berada. Soal bahasa bule mungkin Ananda ”diwarisi” dari Bundanya yang sedikit banyak tau soal bahasa itu, beda dengan ayahnya (nol puthul). Suatu ketika aku bertanya pada Nanda, ”Dik tadi nonton film apa?”. Nonton film Halaman Belakang,” Sahut Nanda. Ada yang tau, film Halaman Belakang? Ternyata film itu Smart Adventures with The Backyardigans, lagi-lagi aku kalah set dengan Nanda.

Meniru orang tuanya, itulah anak. Apa yang kita lakukan, ucapkan, anak akan menirukannya. Ayah kalau tidur kok ngga’berdoa? Persis banget suatu kalimat yang aku ucapkan ketika Nanda mau tidur, adik kalau mau tidur kok ngga’ berdoa, berdoa dulu ya?

Kadang kita sendiri jengkel oleh perbuatannya, tapi bagamanpun juga anak adalah permata hati yang tak ternilai harganya.

reff: Kamu Kamulah Surgaku (Ahmad Dhani)

kamu, kamu adalah surga yang ada
dalam hidupku dalam kenyataanku
kamu, aku adalah penghuni surga
ucapkan salam pada hidup dan mati

tahukah kamu saat kamu menangis
adalah air mata ku yang jatuh berlinang
tahukah kamu saat kamu tersakiti
adalah aku yang pertama terluka

tahukah kamu ya cuma aku
yang punya cinta untukmu
tahukah kamu ya cuma aku
yang rela mati untukmu

Semoga dikemudian hari tidak ada lagi kekerasan pada anak. Anak sebagai pewaris keluarga, masyarakat dan bangsa kita kelak. SAVE THE CHILDREN.

[Halaman Depan]

6 Tanggapan to “DIADANAKU”

  1. dianasafitri Says:

    -:) Kagum aja ngga’ cinta? hi…hi…hii….

  2. waaah…mbak iki…
    lha wong dah ada ‘buah cintanya’ githu loh… 🙂

  3. warmansaja Says:

    alhamdulillah kelucuan, keluguan anak sangat menghibur, menentramkan hati kita, disadari maupun tidak oleh kita sebagai orang tua.

  4. […] baca yang ini, silahkan : Diadanaku | Istriku lebih memiih anak-anak | Mengkapling Isatana Mungil Diatas […]

  5. […] sang buah hati : Diadanaku | Bapak Bukan Ayah | Bermain Tebakan : TK A VS Pasca […]

  6. […] Gadisku, Begadang Bersama Tuhan, Diadanaku […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: