Kesalehan dan Rekayasa Sosial

Buanglah sampah pada tempatnya, setujukah anda dengan slogan itu? Sebuah kalimat ajakan/himbauan yang senantiasa didengung-dengungkan untuk mencapai hidup yang lebih sehat dan elegan. Apapun bentuk dan jenisnya bahwa sampah itu berkonotasi bau, jorok, menjijikan dan biang segala penyakit.

Sampah Masyarakat. Tidak sedikit orang yang akan mencibir bahwa preman, pelacur, gelandangan dan pengemis adalah sebagian dari sampah masyarakat. Kalau mereka disebut sebagai sampah masyarakat seharusnya mereka ditempatkan pada suatu tempat yang memang ”layak” dia tempati.

Di bulan suci Ramadhan, bulan penuh rahmat, barokah dan hidayah selayaknya menjadi bulan yang menjadikan kita sesama umat untuk menjadikan momentum yang berharga. Belum pernah menjumpai suatu penelitian secara konkrit membahas tentang kehidupan ”sampah masyarakat” dengan taraf hidupnya di bulan Ramadhan. Menginjak hari pertama bulan suci ini tidak sedikit kita jumpai para pengemis memblokade masjid, gelandangan betebaran di jalanan, pelacur lebih memilih memoles dandanannya, dan para preman lebih getol mempersiapkan taktik liciknya. ”Sah saja”. Karena orang-orang itu tidak akan mendapat THR (Tunjangan Hari Raya) seperti para pekerja/buruh di kantor. Untuk hidup dan agar dapat menikmati seperti orang-orang yang berharta, Jurus Aji Mumpung dipertontonkan dalam aksinya. Inilah kondisi kesejahteraan saat ini.

Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Karena dipelihara dan salah urus alhasil jumlah mereka bertambah banyak. Para orang tua mengeksploitasi anaknya untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidupnya, tempat kemaksiatan sengaja diobrak-abrik, para pelacur tidak sungkan-sungkan lagi beterbangan di setiap sudut keramaian, semua itu tanpa memberikan solusi cerdas, Ataukah tugas mereka hanya menerima bongkar tidak menerima pasang? Sebuah service setengah harga.

Supaya tidak dilabel menodai bulan suci ini, dimanakah selayaknya sampah masyarakat ini berada berada? Islam sangat menginginkan kesejahteraan masyarakat (Social Welfare).

To Bunda : dengan bertambahnya umur, insya Allah memberikan karunia-Nya.

( kembali )

2 Tanggapan to “Kesalehan dan Rekayasa Sosial”

  1. Masalah gelandangan dan pelacur sudah puluhan tahun dihadapi masyarakaty, namun tak kunjung menemukan solusi yang tepat. Gelandangan sendiri macam-macam, ada yang memang betul-betul tidak punya apa-apa, ada yang karena malas bekerja. Yang menjadi dilema adalah : kita perlu memberi mereka atau tidak? Tidak memberi, bukankah mereka fakir miskin yang berhak atas sebagian harta kita? Tapi memberi, jangan-jangan malah melestarikan gelandangan. Wah, bagaimana sebaiknya?

    Ikhlas aja X. Sama kek saya BU, suka berpikir 2X kalo mo ngasih geladangan yang masih gagah.

  2. Kesenjangan sosial yang terlalu jauh antara si miskin dan si kaya menyebabkan kondisi yang dialami saat ini sangat miris. Pemerintah sebagai “Bapak” masih belum bisa menata kehidupan bermasyarakat yang lebih adil dan sejahtera, meski telah berusaha.
    Melihat sampah masyarakat yang tidak terurus dengan benar, melihatnya jadi kasihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: