Fiksi versus Non-Fiksi

Terdengar tapi agak samar, tiba-tiba aku menyahut,”Emang Novel apa yang mau di baca?”. Dan istriku mengulangi perkataannya tadi. “Kok novel sih, aku pingin baca buku tentang Syech Siti Jenar.” Memang sekilas hanya terdengar Jenar-nya saja, maka aku bertanya balik seperti itu, kirain nama pengarang Novel, Jenar Maesa Ayu.

“Pengarangnya siapa? Pingin rujukan yang ”kontra” apa yang ”pro atau?”,Tambahku sedikit.

Tukang Potretnya baru belajar Njepret

Tukang Potretnya baru belajar Njepret objek

Literatur – membaca, hanya 10% yang dapat diserap (maksudnya; belajar) dari akifitas itu, sisanya dari apa yang kita dengar, lihat, lihat dan dengar, kita ucapkan dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Kutipan diatas di tulis oleh Vernon A. Magnesen dalam Quantum Teaching. Jika ada tabloid favorit anda, mana yang anda baca terlebih dahulu? Mencari produk yang sedang di iklankan, membaca headline tabloid itu atau ….? Seperti seorang pemburu berita di “tengah” meja hijau, mereka mempunyai trik tersendiri, berbeda ketika kita membaca teks fiksi. Atau jika anda yang telah membaca Novel Jodi Picoult, My Sister Keeper (Penyelamat kakakku) sebagai People Magazine atau karya fiksi lainnya, disana tidak ada petunjuk khusus layaknya buku Pedoman Standar Nasional Pendidikan yang memuat pasal-pasal tentang pendidikan, bila menginginkan tentang Pengangkatan Tenaga Honorer, kita bisa langsung buka halaman tersebut.

Masih kabur aja fotonya

Masih kabur aja fotonya

Memilih yang kita minati dalam suatu “buku” adalah salah satu trik membaca cepat, trik ini dapat dipergunakan juga dalam karya fiksi tapi para pecinta cerita fiksi lebih suka membacanya dengan perlahan – menikmati suasana, plot (alur cerita) dan lukisan kata, seperti membaca karya Pak Khairus. Mengapa membaca “buku” itu? Informasi baru apa yang akan anda pelajari? semua itu tergantung pada anda,

Di akhir Sepenggal pembicaraan dengan istriku di atas, beliau berkata,”Apapun yang aku baca dari cerita tentang Syech Siti Jenar tidak akan mengubah diriku.”

Yang punya saudara, teman, Pak Guru & Bu Guru, siapa saja yang berdomisili di Kabupaten Bogor & Bogor yang mempunyai Blog, ikutan Lomba nulis yuk. ditunggu lho, langsung aja meluncur di sini

( Halaman Depan )

16 Tanggapan to “Fiksi versus Non-Fiksi”

  1. Waduh aku kurang suka baca buku nich…

  2. Iqra…
    membaca…
    tak hanya dari buku, novel, koran, dan sejenisnya
    kita dapat “membaca” dari setiap peristiwa yang terjadi di sekeliling kita…
    membaca dari apa yang terlihat, yang tak terlihat
    membaca dari suara, membaca dari rasa….

    selamat membaca…🙂

  3. setuju ama pendapat kamu, kalau kita berminat pada topik tertentu dan antusiasime kita memudahkan memahami topik serumit apapun. Biasanya apa yg kita baca menempel lama sekali dan susah dilupakan

  4. Fiksi dan Non-Fiksi sama aja deh buat aku.
    Yang penting, baca…baca…baca…

  5. kalau aku sich tergantung keinginan saja mau bc fiksi atau yg lainnya.

    salam hangat selalu

    tetap semangat

  6. tak ada buku yang tak layak untuk dibaca. Bukan begitu? hehe

  7. informasi bisa jadi transformasi lho…, tuh yang di foto dah pada dibaca belom? bisa bayangin transformasi yang terjadi setelah berurutan membaca ESQ trus lanjut baca Stupid thing called Love…he..he

  8. namakuananda Says:

    # Bambang Eko : hah….. kalo ngga’ baca buku, baca apa mas

    # Nyirusavira : mulai pake bahasa “cinta” nih🙂

    # Dendy : Ok. siiiiplah

    # bluethunderheart : sama mas, tergantung keinginan & suasana

    # dondanang : betul…. tapi ada lho yg tidak layak. itu – tu🙂

    # bunda : Stupid thing called love ( I Luv U )

  9. buku…. masih banyak buku yang antri harus kubaca..duh kapan ya bacanya??😦

  10. numpang mampir aja:mrgreen:

  11. yang membuat manusia beradab: membaca (dalam arti yang luas)

  12. Saya termasuk pembaca lambat. Apalagi untuk membaca fiksi, memang betul, dinikmati kata per kata. Sebab membaca fiksi kan bukan cuma untuk mengetahui isi dan jalan ceritanya, tetapi juga menikmati keindahan bahasanya.
    Bagi saya, membaca adalah cara terbaik untuk mengisi waktu. Dengan membaca, kita tak pernah merasa kesepian, meskipun kita sendirian. Dengan membaca, kita tidak menjadi bosan, meskipun harus menunggu berjam-jam.

  13. Bagi aku, antara fiksi en non fiksi itu sama pentingnya karena kenyataannya banyak non fiksi yg diilhami oleh fiksi. . . . . . . jauh sebelum geng non fiksi mampu pergi ke angkasa, para fiksiawan sudah mampu mengirim wakilnya lebih dulu.

    Andaikan sebuah sistim komputer, diri kita ini agak aneh en terkesan salah desain, hehehe.
    Input device kita kebanyakan tergolong lambat dalam mengcopy file.
    Coba dulu kita dilengkapi port USB, hmmm mungkin novel 300 halaman cuma perlu 2 menit pas di transfer ke otak.
    Atau barangkali komunitas non fiksi mau nyiptain perangkat bluetooth yg kompatibel dgn otak kita. . . . . . . . .hmmm, mak nyuz, tinggal ditempelin dikepala, proses plug en play berjalan, dan selanjutnya 300 halaman novel siap di upload. . . . . . . . .

    waduh…. jangan2 pak. Memori kita udah didesain sesuai Kreasi-Nya. 🙂

  14. namakuananda Says:

    # kucingkeren : buku aja sampai antri…. mungkin perasaan buku akan senang jika dbaca mbak. salut.

    # hmcahyo : monggo.

    # gubrik : ok, ada lanjutan ttg “kebo” nya🙂

    # tutinonka : sama Bu, saya juga pembaca lambat,

    # mudz069 : ha…ha…🙂 hardisknya berapa giga ya buat nampung file dari 0 tahun sampai perjalanan hidup

  15. travailer Says:

    SENENG NYA BACA KOMEN2 DIBLOG INI… KALO AKU SIH… AKU SENANG2 AJA TUH BACA…APA AJA AKU BACA YANG PENTING ADA HURUF2 NYA..HEHEHHE… YANG PASTINYA SIH… MENURUTKU SEMUA PASTI ADA MANFAATNYA… SEMANGAT TERUS … NANDA..EN SALAM KENAL JUGA UNTUK SEMUA… AKU WARGA BARU DI BLOG INI.. MASIH HARUS BANYAK BELAJAR..

    Salam. Semangat nge-blog

  16. suhadinet Says:

    Wah-wah, apa ndak berlebihan ini. Tulisan saya juga diapresiasi di blog bagus ini. He..he.. tapi nama Khairus boleh juga ya.😉

    Kalo berlebihan ngga’ juga 🙂
    Nama Bapak yang sangat komersil “KHAIRUS”, betul khan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: