Media dan Masyarakat yang Cerdas

Lagi-lagi Media Televisi menjadi sorotan masyarakat pada sepekan ini. Kasus demi kasus ”dibuat” dan dipaparkan oleh pemerintah secara ”incrit-icrit” sehingga audience (baca: masyarakat) merasa penasaran dan timbul next questions. Media Televisi, notabene sebagai corong informasi yang sangat dinanti-nantikan oleh kalangan masyarakat demikian cerdas menyajikan tayangan bak sinetron (Sinema Elektonik) yang tak tau kapan akan berakhir. Kisah heroic Trio BB dan dramatisasi per adegan sangat mengalahkan momentum 10 Nopember. Jika pemirsa masih masih mengelu-elukan gambar gerak + audio itu, produser program pun tidak segan-segan menambah porsi yang lebih lezat dan menggiurkan. Media TV, apapun programnya, sangat cangih untuk membentuk opini dan emosi masyarakat. Tidak jarang masyarakat terjebak akan hal ini.

Lain halnya ketika kita melihat film TV atau film layar lebar, kita memang sengaja datang ke gedung Bioscope atau memutar cakram Video/DVD di rumah untuk sekedar mendapatkan hiburan, menambah informasi yang up 2 date atau meng-apresiasi film tersebut. Ketika media TV ditelisik secara detail oleh masyarakat yang konon katanya dapat menimbulkan ekses emosi yang berlebihan, pihak mediapun tidak tinggal diam. Dengan memaparkan verbalistik secara logis persuasive, mereka tidak jarang memakai teori penyiaran. Ya….. udah, jadinya babar blas.

Timbulnya asap karena ada api yang menyala. Mbok ya-o (kalo bisa sih) masyarakat memilah sendiri informasi yang disajikan Media TV, karena apa? Karena pihak penyiaran sudah memandang audiece itu cerdas dalam berpikir. Dengan demikian apapun jenis program akan “diterima” secara bijak. Memang, tidak sekali tayangan TV menimbulkan Hallo effect pagi pemirsa. Perbedaan sudut pandang, pengalaman, dan prinsip gaya hidup sangat menentukan bagaimana informasi dari media TV itu diserap. Terlepas dari siapa yang bodoh dan siapa yang pintar , keadaan seperti inilah yang terjadi pada kasus penyiaran sepekan ini, masyarakat tidak atau kurang berhasil meng-encode pesan-pesan yang disampaikan pihak media TV, atau pihak media TV lah yang kurang meng-dekode pesan sehingga terjadi “kesalahpahaman” dengan sebagian masyarakat.

Berharap selalu kepada pemerintah untuk tidak selalu “menyalakan api” tidak pada tempatnya, karena disekitar kita masih banyak “anak kecil” yang tak tau kalo “api” itu panas dan tak lupa kepada insan pertelevisian tidak serta-merta mengibas “asap hitam” yang sudah membumbung tinggi yang akan mencemarkan di lingkungan masyarakat. Semoga masyarakat lebih cerdas, selektif dalam memilih program TV dan jadikan media TV sebagai media pembelajaran.

Kira-kira berhubungan dengan : Yang benar produser apa prosedur sih?Informasi, polusi yang sangat berbahayaBermain sepak bola di Hari Pahlawan

( Halaman depan )

11 Tanggapan to “Media dan Masyarakat yang Cerdas”

  1. Sudah saatnya media di Indonesia harus bersikap lebih dewasa dan objektif.
    Terkadang berita yang ada terlalu dipaksakan sehingga nilai beritanya menjadi bias…

    Simpelnya, kurangin dong berita tentang selebritis…
    Seleb melulu…
    Jadi rada bosen liat TV kalau tidak ada tayangan yang bagus.
    Paling seru kalau melihat serial dokumenter yang bisa memberikan kita gambaran tentang dunia.
    Film dokumenter dan petualangan dari Indonesia juga bagus sebagai media pembelajaran. Pemirsa bisa melihat keadaan alam Indonesia😀
    Program seperti Wisata kuliner juga bagus..

    Alhamdulillah di tengah maraknya acara-acara ga jelas, masih ada acara layak untuk ditonton semua golongan…

    Bagus nih topiknya. Salut😀

  2. mang kumlod Says:

    Acara tipi memang dibanjiri informasi ga berguna, sampah bahkan penyakit. Di lain pihak, masih ada walaupun sedikit, acara yng informatif dan mendidik.
    Saya sangat mengapresiasi acara2 yang bagus seperti tayangan TV1 sama Metro TV juga tayangan Trans 7 yang leptop si Unyil dan acara jalan2 ke pelosok tanah air.

    Dulu, saya mikir ga bisa nih sehari tanpa tipi, tapi setelah dicoba sehari aja, ternyata bisa tuh, dan ga bikin rindu. Cuz dah ada internet yang interaktif dan bisa informasinya kita yg milih.

  3. musti lebih selektif…
    salam🙂

  4. Peran petugas yang menyeleksi setiap tayangan TV sangat diperlukan sehingga yang ditampilkan hanyalah tayangan-tayangan bermutu saja.

  5. namakuananda Says:

    @ a3u5z1i : ehmm….. he…he….🙂 ada ngga’ software yang bisa memproteksi acara seleb?
    salut balik, yang suka film dokumenter. wisata Indonesia, dan kuliner.

    @ mang kumlod : Mang, TV Wan itu yang kena sempret sebagian masyarakat yg kurang simpati ama Trio BB lho.
    Emang sih, dedengkot media masih dipegang Bang Surya Paloh & Karni Ilyas.

    @ nono : YUP, harus cerdas memilih tontonan.

    @ edi Psw : May yes, may be no, kang🙂

  6. salam kenal bang..
    just blogwalking at a rainy day

  7. tak ada aksi tanpa reaksi…..

  8. Dengan banyakannya stasiun TV sekarang ini semestinya kita sendiri yang menentukan sikap, mana yang layak untuk ditonton.
    Begitu kan Pak ?

  9. memang sebuah realita yang kuarng pantas…
    tv sebagai media sharing no 1 masyarakat indonesia saat ini seharusnya jauh memntingkan unsur informasi dan pendidikan..
    tapi apa daya pendapatan sebuah industri tv adalah iklan
    hal itulah yang menyebabkan unsur pendidikan menjadi di nomor duakan

  10. @ deady rizky : matur suwun mampir disini. salam kenal juga

    @ kucingkeren : hi3🙂 kaya’ PER, semakin ditekan, per itu mempunyai daya yang lebih. Aksi min Reaksi.

    @ salma : ya… bisa juga begitu.

    @ hanggadamai : setuju mas, seandainya Pemerintah kita punya rejeki buanyak, mungkin iklan layanan masyarakat tentang Pendidikan, Kesehatan, Sandang, Pangan, Papan yang dapat mencerahkan masyarakat dapat lebih di-blow-up di negeri ini. Tapi apa daya.

  11. yusrin a. tosepu Says:

    bravo buat teknologi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: