(Bukan Jawaban) Untuk Siapa Aku Berkorban

Ditinggalkannya begitu saja gitar kecil di bawah lorong jembatan penyeberangan, hanya itulah satu-satunya “senjata” untuk menghasilkan recehan. Terkadang di setiap perjuangannya mencari receh di jalan, pengamen bocah itu mendapat batu sandungan dari para seniornya yang terlebih dahulu mengenyam “pendidikan” di alam bebas. Senioritas masih berkuasa dijalanan bak hutan belantara yang tak bertuan. Pemalakkan, intimidasi, dan tindak kekerasan kerap terjadi pada pengamen bocah itu. Lantas, apa yang bisa mereka pertahankan dalam hidupnya, tidak lain dan cara yang paling mudah adalah harus ikut dan nurut atas perintah ”Sang Bos”.

gitar-kecilJika memang pengamen bocah itu dihadapkan pada suatu pilihan yang relatif mensejahterakan, pastilah mereka tidak ingin hidup di jalan, mereka lebih memilih hidup layak, dapat sekolah, bermain dengan teman sebaya, dan orang sekitar menyayanginya. Selain sebagian masyarakat yang kurang suka akan kehadirannya ada satu musuh bebuyutannya (baca: SatPol PP). Menurutku, mengapa mereka yang harus jadi korban? Kok bukan penggedhe-penggedhenya. Seperti halnya pecandu NAPZAH, mereka hanyalah sekedar pemakai bukan pengedar. Memang benar, kalo dibiarkan tanpa membatasi gerak langkahnya, bisa jadi, pecandu beralih profesi menjadi pengedar, bahkan gembong sindikat kelas kakap sekalipun. Semoga anak-anak itu tidak terjerumus lebih dalam ke lembah yang penuh kekerasan, pelecehan, penganiayaan, dan pembunuhan karakter anak itu. Trus, kalo ingin serius membina dan memberi pencerahan kepada pengamen bocah itu, please….. putus rantai kehidupan mereka yang seperti lingkaran setan yang mengitarinya. Anda pasti tahu, apa yang aku maksud.

KPAI, apa itu?  mengutip sebagian dari artikel Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang di ketuai oleh Ibu Masnah Sari SH disela-sela acara pertemuan dengan para tokoh agama, ormas dan masyarakat di Hotel Permata Alam, Cisarua, Kabupaten Bogor, Selasa,(26/8) mengatakan, bahwa kegiatan ini dilakukan lebih untuk menyadarkan ormas, tokoh agama, tokoh adat terhadap kewajibannya dalam memberikan perlindungan terhadap pemenuhan hak-hak anak dengan memberikan yang terbaik bagi si anak dan mensosialisasikan UU Perlindungan Anak (UUPA) dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak kepada masyarakat. Sebab, mereka merupakan salah satu tokoh kunci keberhasilan dalam meningkatkan efektivitas perlindungan anak kepada masyarakat luas.

Kalo anda membaca UUPA (maaf, aku bingung membacanya) yang sudah berjalan kurang lebih 6 tahun, tergambar sudah potret buram ketidakberhasilan akan sistem yang telah ada. Semua pihak yang berwenang berjalan sendiri-sendiri seolah-olah tutup mata menyeberang jalan tanpa melihat kendaraan yang lalu lalang. Trus….. gimana nih…. Ihh… gemess!

Semoga saja potret buram yang telah ditusir selama ini menjadi potret yang penuh warna ceria, seindah warna aslinya untuk mengisi bingkai kosong di bumi pertiwi ini, Indonesia.

Inspirasi tulisan : Take & Give | Anak Saya Tidak Boleh Miskin | Kesalehan dan Rekayasa Sosial

(Halaman depan)

25 Tanggapan to “(Bukan Jawaban) Untuk Siapa Aku Berkorban”

  1. Jadi ikut gemes… Harusnya ada yang ngurusi mereka. Jaminan sosial?

  2. msh jauh dr harapan…😦

  3. Hmmm, masih sebentuk cahaya kecil ya…

  4. jangan padamkan sinar redup yang menyala dari cahaya itu, biarpun remang remang jika kita tetap menjaganya suatu saat sinar itu akan menerangi bangsa kita.

  5. loh, kenapa diksh (bukan jawaban) ?
    lha wong g ada yg tanya lho😆

    Trus, kalo ingin serius membina dan memberi pencerahan kepada pengamen bocah itu, please….. putus rantai kehidupan mereka yang seperti lingkaran setan yang mengitarinya. Anda pasti tahu, apa yang aku maksud.

    >> nah, ini juga. kok langsung nge-judge kita yang ngebaca udah tahu maksudnya. Lha aq belom tau tuh pak, gimana dunk?😀

  6. apa yang bisa saya bantu?

    mungkin hanya dengan mendengar keluhan bisa meringankan beban?

  7. semoga bang…semoga saja segalanya terjadi. Meski mungkin perlu waktu yang sangat sangat lama………………

    senang aku lihat abang datang lagi?

    salam hangat selalu

  8. @ Suhadinet : Sudah ada yang ngurusin, tapi 1/2-1/2, keknya kita harus turut berperan serta untuk melindungi anak sebisa mungkin.

    @ nono : Harapan yang selalu dicita-citakan anak Indonesia selalu ceria dan berbakti kepada orang tua.

    @ Raffael : cahaya itu masih belum bisa menerangi kegelapan di setiap sudut, mungkin nanti.

    @ dindacute : seperti kunang-kunang yang selalu membawa sinarnya, meski hanya cahya mungil yg masih belum bisa menerangi kegelapan sekitarnya, tapi indah.

    @ dewi : ehmm…. katanya kalo ada kata Siapa itu menjadi kata tanya, jadi aku blom bisa menjawabnya.
    Semua aku anggap tau aja biar gampang ngejelasinnya, enak kan?
    🙂

    @ suwung : suatu harapan yang selalu kita idam-idamkan bersama

    @ bkuethunderheart : memang blue, waktu, demi waktu.
    salam hangat juga.

  9. fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara bukannya??🙄

  10. pasal2 UUD hanya bisa di ajarkan, tak ada realisasinya

  11. persoalan bersama seharusnya menjadi perbincangan bersama pemecahan bersama,
    .
    ternyata sebagai orang Indonesia lebih senang berjalan sendiri-sendiri.

  12. buat apa fungsi parenting?
    buat apa rumah singgah?
    buat apa panti asuhan?
    kalo masih banyak adik2ku yang bertebaran dijalan2…yang ga dpt diprediksikan gimana masa depan, keselamatan dan kehidupan mereka di jalanan😦

  13. bang………..
    ada apa tak ke rumahku?
    jangan bilang abang sedang menanti kelanjutan novelete ku ya? hehehe.GR banget sih blue yang bang?

    semangan
    salam hangat selalu

  14. hmm……
    sekarang abang mulai sedikit tertwa tawa yach to blue.nanti di bilangain sama abangnya si blue lho.cos abang di suntik lagi……wadau! blue di lemparin ke danau yang ada buayanya. hehehe…….

    senangnya aku bersahabat dengan abang.
    salam hangat selalu

  15. tak ada waktu untuk ngurusin mereka, lebih baik buat kampanye. tahun depan kan pemilu…

  16. Mungkin dalam benak sebagian orang tinggi, begitulah seharusnya mereka, agar bisa digunakan untuk jualan politik mereka, bukankah masalah anak dan kemiskinan merupakan komoditi yang baik untuk bahan kampanye para Calon petinggi??

  17. bang…………
    ku tunggu abang di rumahku jam sebelas malam ini.
    salam blue!

    salam hangat selalu

  18. ga ada jaminan sosial buat mereka, ga ada sekolah gratis buat mereka, kasian ya…
    “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” omong kosong!!!!

  19. good job…

    makasih dah mampir ke tmpt kami…

    postingan buatan Anda juga gak kalah menarik…

    sukses selalu….!!!

  20. Kasihan banget mereka. Pada usia yang masih belia mereka harus berusaha untuk bertahan menghadapi kerasnya kehiduapn di kota besar.

  21. ga pernah ada keseriusan dari pemerintah untuk membantu mereka…
    waktunya kita..🙂

  22. abang sih takikutiperaturan dari blue.kan sudah blue katakan abang memsti bawa martabrak telur dua cos roti bakar edi cos minuman teh manis panag du…………….lari! blue takut kenasantetan abang hehehe………….
    tunggu selalukelanjutannyaya,bang
    salam hangat selalu

  23. @ yodama, fachri, komuter, INDAH REPHI, bluethunderheart, kishandono, daiichi, inforesep, andydoank2525, Edy PSW, DidienR:
    aku pikir begitu , mungkin ada yang salah kaprah dengan kalimat Dipelihara, Dipelihara bukan dianakpinakkan tetapi dibina, diasuh, dilindungi, curahan dan belaian kasih sayang seperti orang tua terhadap anaknya. Dan ketika proses parenting kurang optimal dijalankan, terbatasnya rumah singgah, kepedulian kita bagi sesama masih terbatas anak2 itu akan selalu merindukannya.

    terima kasih sahabat yang peduli akan bocah-bocah yang akan meneruskan kita kelak dikemudian hari.

  24. bang……….kenapa lirik lagu itu yang abang tampilkan blue jadi tambah nangis saat hendak tidur. Itukan lagu saat aku dan papahku main gitar bareng. Hmm……….senang lihat blue sedih ya? biar blue terlihat aneh? hmm……..gityu ya,abang…….Plax! digetok sama gitar abang hehe…..
    salam hangat selalu

  25. alivfaizalmuhammad Says:

    waduh, kok samapai segitunya ya. tetapi, di lain, seperti yang pernah saya alami dan yang pernah dituturkan oleh beberapa teman saya dari pengalaman mereka, di Kota Malang, tepatnya di Alun alun, di situ bauanyak sekali anak anak yang ngemis ngemis, mereka akan terus mengemis pada orang yang sedang duduk duduk di kursi alun alun, jika tidak diberi uang mereka akan mengumpat dengan berani kemudian pergi begitu saja, tetapi jika ada orang yang baik hati yang memberikan sepeser uang, mereka akan memanggil teman temannya yang lain dan menyerbu orang baik hati tadi. ya kisah ini memang sepertinya klise dan sudah banyak difilmkan mungkin, tetapi begitulah adanya. bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: