Nyawang Langit

Langit

Layang-layang itu belum juga bisa terbang. Empat bocah, seorang bocah sedang asyik menarik layang-layang dari tangan temannya di atas gedung lantai 2 sekolah yang belum di bangun, dua bocah lainnya sedang menggulung benang di bekas kaleng susu.

Awan cumulus masih tampak di langit, ketiika itu angin berhembus cukup untuk menerbangkan layang-layang mereka, sekali–dua kali dicobanya tapi belum juga berhasil. Masih bersikukuh untuk menerbangkannya. Riang terlihat di raut  wajah bocah-bocah itu. Canda dan keringat bersatu dalam semangat mereka. Sepertinya seorang bocah yang mengenakan kaos oblong itu tahu mengapa layang-layangnya tidak bisa diterbangkan, terlihat ada yang robek di bagian sisi kanan – bawah layang-layangnya. Dirobek sedikit layang-layang yang tidak terpakai dan ditempelkan dengan ludahnya. Tidak yakin akan dapat terbang, kusplang dari benang nilon digantinya. Sesaat, dua bocah yang sedang menggulung benang mengedarkan pandangannya ke langit. Layang-layang putih bercorak batik itu akhirnya dapat terbang juga.

Waktu bergulir, terdengar sayup-sayup adzan maghrib bergema, tanpa membawa benang dan layang-layang, empat bocah berlarian saling menyusul dari lantai 2 gedung tersebut. Sepertinya mereka memang sengaja meninggalkan benang dan layang-layangnya di atas gedung itu. Awan cumulus berubah menjadi gelap. Cahya senja masih tampak menyelinap di balik awan. Penantian seorang wanita setengah baya di depan pintu agak kusam tidak membuat waktu cepat berlalu. Mata yang bening dengan tatapan cinta memandang jauh di setiap sudut. Anaknya yang di nanti belum juga pulang. Sembari mengangkat nasi yang di jemur sejak pagi, wanita yang selalu mengenakan kerudung masih tampak gelisah. Tiba-tiba dari arah yang tidak begitu jauh terdengar suara,”Mak, Langit pulang, maafin Langit ya, pulangnya agak sorean”. Helaan napas panjang dihembuskan dari seorang ibu yang menanti anak sematawayang menandakan kelegaan hatinya. ”Hhmm… dari mana saja, hari gini kok baru pulang, cepat gih mandi dulu terus sholat dan jangan lupa baca doa”

Tidak seperti biasanya, suara lengang menggelayuti malam itu. Disibak kain biru penutup pntu kamar Langit. Tidak terdengar sepatah kata yang menyambutnya. Piring dan segelas teh manis untuk Langit diletakkannya di meja mungil dekat jendela. Setumpuk buku dan alat tulis yang beserakan di meja dirapikan kembali oleh Mak. Langitpun tertidur masih mengenakan sarung yang dipakainya sewaktu sholat. Duduk di dekat kaki Langit, mata Mak Endah, yang sering dipanggil tetangganya untuk memcuci dan menyetrika baju itu menatap sudut kamar anaknya. Piagam dan piala yang menghiasi kamar Langit di berbagai kejuaraan menjadikan Mak Endah bangga kepada Langit. Foto lelaki ukuran 6R dibingkai pigura kayu masih dipajang Langit di dinding itu. Diusap kening dan rambut Langit dengan belaian kasihnya, Mak Endah berbisik,”Seandainya Bapakmu masih hidup, nasib kamu tidak akan begini, Mak sayang Langit, apapun yang terjadi, Mak akan membahagikan kamu. Jika kelak nanti, kamu harus bisa menjadi seperti Bapakmu”. Air mata cinta itu membasahi pipi Mak Endah.

Surya teman Langit …… (bersambung)

  • Nyawang Langit : melihat langit
  • Awan cumulus : berbentuk seperti gumpalan kapas dan sering membawa  hujan.
  • Kusplang : ikatan benang untuk menyeimbangkan layang-layang

3 Tanggapan to “Nyawang Langit”

  1. dah lama ga maen layangan … hehe

  2. […] Revolusi Cara Belajar LearningRevolution, Belajar dan selalu belajar « Nyawang Langit […]

  3. layang layang yang ku sayang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: