Nyawang Langit Tak Berbatas

[ … ] apapun yang terjadi, Mak akan membahagikan kamu. Jika kelak nanti, kamu harus bisa menjadi seperti Bapakmu”. Air mata cinta itu membasahi pipi Mak Endah.

Surya.

Surya teman Langit, dalam gelap malam dia termangu duduk di kursi bambu sembari nyawang langit nan cerah bertabur bintang. Udara yang bersih tak ternoda oleh debu dan bercampur gas membuat bintang itu semakin kemilau. Rasa kangen kepada orang tua yang sudah terpendam hanya bisa ditumpahkan kepada dinginnya malam. 8 bulan  yang lalu, ayah Surya mendapat promosi bekerja dari perusahaannya untuk menduduki posisi Chief Manager di salah satu anak perusahaan kilang minyak di Malaysia. Mau tidak mau sang bundapun turut menemani aktifitas ayahnya. Tinggal bertiga bersama kakek dan nenek di desa membuat Surya lebih bisa mandiri. Segala aktifitas keseharian ditanganinya sendiri. Yang membuat bangga kakek dan nenek, Surya anak yang grapyak kepada orang, tidak membedakan asal-usul, budaya, agama seorang teman. Tidak sedikit yang suka kepada sikap Surya.

Setetes air mengenai kening Surya. Sudah dua jam Surya duduk di bawah pohon berteman angin malam, tidak sadar bahwa begitu cepat perubahan cuaca malam itu. Bintang berkelip dan sinar rembulan yang tadinya sempat menemaninya hilang tertelan awan stratus. Sepertinya titik-titik air itu terlalu berat mengapung di udara. Sesekali terlihat cahya di langit, Surya segera meranjak pindah ke teras samping rumah. Temaram malam membuat semakin rindu belai kasih ayah bunda di negeri tetangga.

Ayah …Bunda….Surya ingin selalu dekat dan berkumpul bersama. Sebuah goresan pensil yang dituangkan di selembar kertas untuk mengurangi beban rindu kepada sang ayah dan bunda. Kata demi kata dirajut, tak disadari olehnya ada seseorang yang mengamatidari balik jendela.

Setelah merampungkan tulisan itu, seseorang yang mengamati sejak dari tadi menghampirinya. ”Surya…., sudah malam, kamu tidak ngantuk?”, Suara lirih terdengar tak berbatas.

”Kakek…. Surya ingin bertemu ayah bunda, Surya kangen Kek,”Sambil melempar senyuman Surya membalas suara lelaki tua, jangkung dan cukup bersahaja dihadapannya.

”Surya, kamu anak yang berbakti, doakan kedua orang tuamu yang sedang berjuang di negeri seberang. Ayah bundamu mungkin 2 bulan lagi segera pulang karena mendapat cuti selama seminggu. Dia akan menemani dan bercengkerama kembali denganmu. Sabar ya Surya”

Perbincangan singkat malam itu membuat Surya menjadi lega. Lega ,merasa cukup diperhatikan dan mendapat curahan kasih sayang dari kakek dan neneknya sebagai penggati kedua orang tuanya.

Embun pagi, rona merah di ufuk timur membujuk Langit ..(bersambung)

Grapyak : suka bergaul dan tenggang rasa dengan sesama

13 Tanggapan to “Nyawang Langit Tak Berbatas”

  1. […] Belajar dan selalu belajar « “Kau akan mati” versi google Nyawang Langit Tak Berbatas […]

  2. ikut komen dulu😀

  3. tunggu hingga subuh menjlang, maka surya khan datang.
    sabar yah

  4. hmm…..
    kopi simbah mana Nda?
    ngantukh…

  5. Kerreeenn….

    aku yo arep nyawang langit disik ah….

  6. Apa gak mungkin Surya diajak bersama? palagi jabatan si aya mayan mapan pasti pasilitasnya melebihi daripada sekedar mengajak seorang anak kandung?

  7. sabar yah…….ntar lagi surya muncul kok so dia gi kluar menyinari belahan bumi yang lain….sabar yah….
    survivors celebrate valentine day ….

  8. blue sukaaaaaaaaaaaaaaa postingannya
    blue datang di bulan penuh cinta……….lOve U
    salam hangat selalu

  9. aku tunggu sambungnya,cak.

  10. Kalo di padang, banyak nama anak cowo surya…. karna bapak nya suka roko surya… wahhh

  11. ikut menunggu sambungannya

  12. […] Revolusi Cara Belajar LearningRevolution, Belajar dan selalu belajar « Nyawang Langit Tak Berbatas […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: