Nyawang Langit di Gelap Nyawang

[…] Lega, merasa cukup diperhatikan dan mendapat curahan kasih sayang dari kakek dan neneknya sebagai penggati kedua orang tuanya.

Embun pagi, rona merah di ufuk timur membujuk Langit melangkahkan kakinya di pekarangan rumah. Diusapnya daun Dandelion dari titik embun yang menempel, bunga putih dengan bulu halus dan ringan serasa tersenyum. Hembusan angin pagi menjatuhkan biji kecil di ujung jambul bunga Dandelion ke tanah. Sebuah cikal bakal kehidupan di dunia.

Ketika bercanda dengan bunga Dandelion, Langit teringat sahabat kecilnya, Bulan. Gadis berparas cantik yang selalu berpenampilan rapi dan trendy itu selalu memilih barang kesayangannya dengan hiasan bunga. Bulan itu bunga, bunga itu Bulan, itulah sebutan Langit pada Bulan.

Bulan

Jam dinding di lantai 2 rumah minimalis yang tertata rapi  itu menunjukkan pukul 7 pagi. Bulan bergegas membereskan tumpukan buku pelajarannya sambil bersenandung. Tidak jauh dari tempatnya, suara ramah menyapa,”Non Bunga, sudah di tunggu Mama di mobil, jangan lupa topi sekolahnya”. Tanpa menyahut sepatah katapun Bunga langsung lari menuju mobil bercat silver metalik yang sudah menunggu di garasi lantai bawah rumah berukuran 7 x 15 meter itu.

”Bunga, nanti Mama dan Papa mau ke Bandung, kamu mau ikut?,”Tanya Mama Bunga sembari membenarkan savety beltnya.

10 menit sebelum bel berbunyi masih terlihat anak-anak berpakaian putih merah berjalan memadati jalan itu. Kurang lebih 100 meter dari gerbang sekolah, Bunga meminta izin untuk turun dari mobil. ”Ma, Bunga turun disini saja, Bunga ingin jalan kaki bersama Bintang, boleh khan Ma?”.

Dari balik jendela mobil terdengar suara lantang menyapa,”Bintang, tunggu, aku mau jalan bersamamu”. Bulan dan Bintang, tak terlihat jarak yang membedakan sahabat kecil itu walau Bulan anak berkecukupan, dia pun masih mau menyempatkan diri untuk sekedar menemani berjalan kaki menuju pintu gerbang sekolah bersama Bintang.

Pelajaran hari itu membuat Bulan tertidur pulas di karpet merah muda bergambar bunga mawar yang membentang di kamar mungil bercat merah muda. Mengikuti pelajaran olahraga di jam pertama sampai menyempatkan waktu untuk mengikuti ekstrakurikuler marching band membuat badan Bunga terasa lelah. Hari Sabtu yang melelahkan bagi Bulan.

Sambil menunggu makanan yang dipesan di sebuah Resto Gelap Nyawang Kampus ITB, Bulan memberikan tebakan buat Mama dan Papanya. ” Ma.., Pa…, Bulan punya tebakan, jawabannya harus serius ya?” Pinta Bulan kepada orang yang dicintai malam itu. ”Mengapa peserta lomba lari itu larinya dilapangan berlawanan dengan gerak jarum jam? Hayo kenapa, Ma, Pa?”

”Ha..ha..ha… ya iyalah… itu khan sudah peraturannya”, Jawab Mama.

Sebelum menjawab tebakkannya sendiri dari arah belakang meja sudah berdiri pelayan resto,”Bu maaf, untuk cumi bakarnya sambalnya pedas atau…?”

”Jangan terlalu pedas ya mbak, cumi itu untuk anak ini…ni,”Sambil menunjuk Bulan yang duduk dihadapannya.

”Bulan tahu tidak, Mama dan Papa mengajakmu makan malam disini?”

”Tidak Tahu Ma?!”

”Masa tidak tahu sih, Sekarang khan tanggal 14 Februari hari ulang tahunmu, ingat tidak?”

”Hii..hii..hi…ih Mama, Papa thank u, terima kasih Ma…Pa…, kirain masih tanggal 13”. Bulan mendekati Mamanya dan mengecup kedua pipinya. Serasa langit, bulan dan bintang di Gelap Nyawang menjadi saksi keceriaan gadis cantik berambut lurus dengan bandana merah dirambutnya malam itu.

Dari balik pintu terdengar suara agak paruh,”Bulan, sudah mau maghrib, kamu mau ikut ke Bandung sama Papa Mama atau tidak?”.

Sambil mengetok pintu kamar Bulan, Papanya mengulangi sekali lagi dengan suara yang agak keras,”Bulan, Mama sudah menunggu”. Sepertinya Bulan terlelap, terbawa kembang tidurnya.

HP yang masih tergenggam ditangannya tiba-tiba bergertar dan berdering, sesaat Bulan tersontak,”Loh Mama? Aku di mana?” sambil melihat jam di dinding Bulan menjawab nada itu,”Iya Ma, Bulan sudah bangun, tunggu sebentar, Bulan Mau ikut”.

Bintang, Bulang, Langit dan Surya menengadahkan kedua tangannya ke atas …. (bersambung)

35 Tanggapan to “Nyawang Langit di Gelap Nyawang”

  1. […] Cara Belajar LearningRevolution, Belajar dan selalu belajar « Nyawang Langit Nyawang Langit di Gelap Nyawang […]

  2. Ceritanya sederhana, menarik. Tebakannya belom dijawab tu hehe..
    Iya, nunggu kelanjutannya😀

  3. bang……….aku mau tanya adakah sesuatu yang blue berikan bikin abang tersinggung?
    aku kagak ngerty
    salam pertemanan kita masih bisa di fb kan

  4. Aduw bsambung.. Ayuk cepetan disambung ya nan..

  5. q naikkan jadi lima belas ribu pertahun gimana?
    puas puas puas.hehehe
    kita akrabnya di fb aza ya,bang

  6. Nunggu lanjutannya dulu aja baru komen.

  7. bangggggggggggggggggggg
    datang tak diundang pulang ya pulangin yo wisssssssssssssssss
    salam persahabatan saja tanpa apapun

  8. namanya juga baru,bang jadi tak ada buku tamu pokoknya semuanya bebas datangggggggggggggg

  9. Istilah nyawang itu, kaya maen ke cawang, bisa dibilang nyawang juga ya, hehehee

  10. q malah kalau makan nasi uduk suka pakai cawang….hehehhe
    salam hangat selalu
    datang datang yukkkkkkkkkk

  11. Nyawang = Lihat
    benar gak???? 😀

  12. Rindu menambah indahnya saat pertemuan..!!
    Saat KAsihku nan jauh disana, menjaga apa yang kuamanahkan kepadanya, terbayang saat indahnya pertemuan..😀

  13. ditunggu lanjutannya… ^^

  14. selamat menikmati akhir pekannya ya,boz
    maaf semalam langsung ketidurannnnnnnn
    salam hangat selalu

  15. nice..
    ditunggu lanjutannya

  16. sudah hari minggu mestinya jath abang ke rumah q kan hehehe.
    salam hangat selalu

  17. Hi Friend.. Interesting post.. Keep up the good work.. Do visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!!!

  18. tetap semangat ya,boz
    salam hangat selalu

  19. bang..mesti abang sedang sibuk makanya tak ada di parkiran blue namun abang mesti datang ya
    salam hangat selalu dalam dua musimnya blue

  20. sobat
    sekedar menyapa
    maklum lagi jarang OL

    salam semangat!

  21. Akhirnya bulan jadi ikut mamanya nggak?

  22. Kalo saya suka yang pedas-pedas lho…he he he.

  23. irsanfinazli Says:

    NAmbahi, anank saya yan no 2 juga sangat suka pedas.

  24. selamat malam bang
    mimpi indah ya malam ini.asal jangan mimpikan blue…………..kacau balau
    salam hangat dalam dua musimnya blue

  25. Pagi..:) diajeng menyapa dg serumpun senyum khsus bwt yg punya blog🙂

  26. Semoga harimu menyenangkan sahabat🙂

  27. wah…lg bikin novel toh… ini masih bersambung ya..ditunggu dulu sp tamat dehh..

  28. Assalamualaikum Wr. Wbr.

    Kapan posting novelnya selesai, maunya kalau udah selesai baru dituliskan. bagus kok. makasih berkunjung lagi saya tampil dengan posting yang lebih beda ada slide lagu di branda dan buku tamu. berkunjung ya ditunggu komentanya juga

  29. True story ya mas ?🙂

  30. judulnya rada membingungkan ndak ya…nek di artikan dalam bahasa iindonesia ” memandang langit di kegelapan memandang ” bukan begitu bukan ?🙂

  31. aku lanjutin cerita 4 sekawan Langit, Bulan, Bintang dan Surya yach😀
    maaaf baru bisa koment

  32. […] Revolusi Cara Belajar LearningRevolution, Belajar dan selalu belajar « Nyawang Langit di Gelap Nyawang […]

  33. wah, wah, Nda
    jadi inget bougenville mekar di gerbang kampus tuh
    masih hidup ngga ya?
    dan flambooyan taman ganesha, pasti dah ditebang!
    dan merahnya villa merah, digusur juga?

    ehmmm gelap nyawang dan barrack-nya (barak G, dulu!!!)

  34. Nyawang Langit lagit te naon abdi tek tiasa nyarios sunda. punten wae.

  35. Jadi ingat gelapnyawang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: