Bonek gag Harus Bonek

Dua rakaat ditutup  salam siang itu.

Ku tatap sebagian sudut kota di depan stasiun, tak terlihat dan terdengar ingar seperti layaknya Ibu Kota. Bukan becak atau helicak tapi Bentor yang hilir mudik saling menyusul mengantar penumpang. Sepertinya di setiap sudut stasiun mungkin sama persis, penjaja Koran, penjual asongan, calon penumpang, calo tiket, gepengpun ikut berkolaborasi menghidupkan suasana. Latar disekitar stasiunpun semakin nyata … logat Tegal, wonogirian, bahkan Suroboyoan masih nampak kental disela-sela obrolan bahasa ibu yang digunakan di sekitarku.

Kereta api yang ku tunggu akhirnya menyapa juga. Semua penumpang pasang aksi tak terkecuali para pemanfaat kesempatan. Say Hello, cipika-cipiki para pengantar tak lepas dari kasih, cinta yang mendalam pada kerabat, saudara. Bang, tempat duduk ini kosong ya?,”Celetuk gadis dengan wajah berkeringat.

Alhamdulillah, sepertinya perjalanan ini penuh memori,”Halah…., kalayanku semakin membuai. Sudah 1 jam ngobrol, rasa ngantuk tak tertahan, headset yang menggantung di leher mulai ku pasang, lagu Jagalpabu mengiringku tidur lebih dalam lebih dalam dan mengantar kealam bawah sadar.

Pesawat yang aku tumpangi seolah-olah menampakan sinyal putus-nyambung putus-nyambung. Padahal terlihat jelas dari balik jendela pesawat, nuansa kota sudah berada di bawah awan. Pesawat masih berputar lagi ke 4 kalinya berlawanan dengan arah jarum jam. Entah apa, sang pilot memilih jalur itu. Mungkin sang pilot member kesempatan kepada penumpang untuk bersiap-siap, mengingat masa lalu, memanjat doa atas perbuatan kita semasa dulu atau…. Huuuh… tapi aku tetap percaya, sang pilot tahu tindakan yang harus dilakukan. Berpegang pada armrest sambil menundukan kepala, roda pesawat menyentuh bumi. Alhamdulillah, aku selamat.

“Bang, bang… bangun.” Sepertinya ada yang menyentuh tanganku. Keknya abang tadi sedang mimpi deh,”Singkat kata dari gadis disampingku.

Perjalan yang semestinya hanya 5 jam mendapat bonus 2 jam, alhasil sampai di tujuan jam 9 malem. Jadwal jadi berantakan. Duh… duduk membaca Koran sambil lihat sekitar. Tak terasa sudah jam 11 malam. Petugas stasiun menghampiriku. “Mas, Mas mau kemana?”

Mau ngejawab ke Jakarta gag mungkin, malem2 gini ke Jakarta, huh…emmm… “mo jemput saudara pak.”

“Mas, kereta yang tadi itu kereta terakhir.”

Hah…? Berarti …. Sembari senyum, menyapa petugas stasiun ku lanjutkan langkah kecilku. Masih jam 12. Ide nge-Bonek semakin menjadi,“Gimana kalo tidur di Bandara aja.” Ternyata sampai disana, gerbang bandara tertutup rapat. Bonek-bonek, gagal maning gagal maning…. “Udahlah bang, terserah abang mo di anter kemana, pokoknya aku bisa tidur”

Ku buka pintu hotel transit. Yach…udahlah pokoknya bisa tidur dan mandi. Terdengar dari sebelah kanan atau kiri kamar canda seorang wanita dan lelaki. Wow….hiburan apalagi ini. Tak selang beberapa menit kemudian, langkah berantakan mengusikku. Rasa penasaran bergelayut. Dari tirai jendela sedikit ku sibak. Beeuuhh….emang dahsyat hotel ini. Dompet dari saku celana ku keluarkan sambil menghitung sisa yang ada. “Haaannyah…. Ngapain ngluarin dompet”

Pagi hari berbalut kabut, rona merah di ufuk timur masih menyisakan keceriaannya, pesawat garuda sudah menungguku. Say… aku pulang tapi gag bawa oleh-oleh.

3 Tanggapan to “Bonek gag Harus Bonek”

  1. Ach abang.asal abang selamat blue senangnya minta ampun decg
    salam hangat selalu

  2. sahabat
    ternyata kau tidak takut terbang

    lama jua ga kesini nih🙂

    Kunjungi:
    http://miejanda.com

  3. Apa kabar???
    sekedar informasi,,, mau ngenalin blog barunya accan. kunjungi yah..

    Accan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: