Sumpahnya Seorang Pemuda

[Review] Ketika sumpah berbalik arah dan berubah menjadi janji verbalistik semata, kekuatan fitrah yang ada dalam jiwa terasa terabaikan. Dalam kurun waktu 8 windu, bangsa kita selalu mendengungkan ikrar Kongres Pemuda Kedua yang dikumandankan pada tanggal 28 Oktober 1928. Tak berpaling kepada sejarah di era itu, secara spartan para pemuda menggagas perjuangan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan dari belenggu penjajah. Memang masih bias belum ada parameter yang pasti untuk menentukan dampak dari peristiwa itu. Tapi dengan sejarah kita dapat melihat perjalan yang telah ditempuh. Singkat kata, pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia diakui oleh dunia sebagai negara yang berdaulat, peran pemuda di masa itu sangat ketara sekali. Sumpah Pemuda yang diucap dan dimaknai sebagai alat pemersatu bangsa di kala itu, lambat laun seiring kuatnya pompa globalisasi seakan teks dan semangat itu bagaikan fosil.

Keterlenaan selama ini seolah dininabobokan oleh kemerdekaan sesaat. Masih banyak tindakan yang memperlihatkan kekalapan-sosial, frustasi sosial ketradisi-adatan atau keagamaan yang tidak jarang menghalalkan cara-cara destruktif yang akan mencoreng muka tradisi-adat atau agama sendiri. Bahkan terjadinya kesenjangan okupasional (kesejangan antara dunia kerja dengan pendidikan) masih terlihat di negara yang merdeka ini. Kesenjangan ini berbentuk banyaknya lulusan yang tidak mampu mengisi lowongan kerja, sehingga tidak ada keselarasan antara program pendidikan dan tuntutan dunia kerja. Hal ini juga terjadi di negara lain termasuk di negara industri. Bahkan lebih dari separo pemuda putus sekolah di Amerika tidak memiliki pengetahuan atau ketrampilan dasar yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan baik (Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos dalam Buku The Learning Revolution (Revolusi cara Belajar), Kaifa, Bandung, 2000.

 

Yang muda selalu belajar meski tidak meneruskan di bangku sekolah

Yang muda selalu belajar meski tidak meneruskan di bangku sekolah

Lantas bagaimana peran pemuda untuk menyikapi semua ini. Tidak untuk dibenturkan dan saling menyalahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, semua ini karena perubahan jaman. Perubahan jaman bukanlah hantu yang ditakuti tapi wajah globalisasi yang sebenarnya harus kita petakan dengan jeli. Tidak jarang kita sebagai pemuda mendengar ucapan ”Saatnya Kaum Muda Memimpin”. Boleh menggantikan ”angkatan tua” asal berbekal kepada pertama, Zero Mind Process yang akan menghasilkan alam berpikir jernih dan suci atau dinamakan fitrah (God-Spot). Kedua, mental building, membangun dengan dasar rukun iman, yaitu membangun prinsip bintang sebagai pegangan hidup; memiliki prisip malaikat sehingga anda selalu dipercaya oleh orang lain; memiliki prinsip kepemimpinan; prinsip pembelajaran yang akan mendorong kepada suatu kemajuan; prinsip masa depan sehingga selalu memiliki visi dan prinsip keteraturan sehingga tercipta suatu sistem dalam kesatuan tauhid. Ketiga, Personal Strength (ketangguhan diri) dengan menetapkan misi,membentuk karakterter secara kontinyu dan intensif dan pelatihan pengendalian diri. Keempat, selalu melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya dan melakukannya secara total, niscaya akan terbentuk Ketangguhan Sosial (Social Strenght) seperti ditulis oleh Ary Ginanjar dalam buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (Emotional Spritual Quotient), Jakarta, 2001. Dan, teringat guruku, DR. A. Fathoni M.Pd selalu berpesan GTLA (Global Thinking, Local Action) berpikir secara Global dalam memecahkan masalah setempat.

Meski usia sudah uzur tapi untuk belajar tetap pantang mundur

Meski usia sudah uzur tapi untuk belajar tak kenal pantang mundur

Insya Allah dengan sekelumit tulisan ini, saya dapat men-zakatkan sebagian ilmu untuk kemajuan dalam peran serta kepemudaan. Sebagai orang yang menyampaikan pesan di dalam blog, saya tak lupa kepada Komunitas Blogger Bogor untuk selalu berkompetisi untuk kemajuan bangsa, bangsa Indonesia. Seperti Rumi dalam syair Kasidah Cinta,”Rahmat Ilahi abadi dan untuk itu seribu kunci tersembunyi antara kaf dan kapal nun.” Kaf dan nun ialah huruf Arab yang membentuk kata kun (Jadilah!). Semoga bangsa ini menjadi bangsa besar seperti yang diutarakan Bapak Mohammad Yamin Tokoh Kongres Pemuda, yang selalu menghargai sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan.

( Go back )

Ada hubungannya dengan : 1. My Hero


13 Tanggapan to “Sumpahnya Seorang Pemuda”

  1. ada angin apa nich.. bahasanya edukated banget🙂

    salam gaull..

  2. ehhh… iya. hari sumpah Pemuda

    di Kampung ngga’ ada apa-apa Pak, tapi semangat pemudanya tak diragukan.

  3. Kata orang Bung Karno pernah berkata beri saya 10 pemuda dan saya akan mengubah dunia. . . . .
    Bahwa pemuda adalah the backbone of nation mungkin banyak yg setuju, karena dipemudalah tongkat estafet ini bakal diserahkan.
    Hanya sayangnya profil pemuda kita kayaknya sebagian besar belum sesuai harapan, belum sesuai dgn kurikulum 28 Oktober 1928
    Suatu koloni kecil bernama keluarga masih banyak yg belum berfungsi dgn semestinya, jelasnya konsep keluarga sakinah masih sering gagal untuk diaplikasikan.. . . . . . what happen ?
    Sang pemuda lebih suka bersekolah bersama lingkungannya dan susahnya kalau lingkungan yg dipilihnya kebetulan buruk jadilah dia produk anak salah asuhan, en bermutasi jadi anak suka tawuran, penggemar psikotropika, jadi alcoholic. . . . . . . . . . .
    Aku berharap suatu pesan yg mengatakan generasi pertama yg membangun, generasi kedua yg menikmati dan generasi ketiga yg menghabisi nggak terjadi disini. . . . .
    Karena masih ada yg mampu berfikir jernih seperti yg memposting tulisan ini dan smoga ini menjadi reaksi fisi.. . . . . . .en disuatu waktu mak blaaarrr, negeri ini bisa memimpin dunia.

    Setuju Pak.

  4. salam hangat…
    seandainya ada lagi Sumpah Pemuda 2008, pasti bisa menghasilkan sesuatu untuk kemajuan bangsa…
    bravo generasi muda…

    Bravo

  5. 28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2008. Sudah 80 tahun yah Sumpah Pemuda. kok kayaknya biasa aja ya??. Gak ada sesuatu yang bESAR untuk menandai moment ini… Fiuuuh…

    ehmmm… May be Yes, May be No

  6. oya, met hari sumpah pemuda yach…

    Semoga kita sebagai penerus bangsa bisa merintis dan membawa kembali Indonesia di Zaman Kejayaan.

    Hehe, btw, tgl 28 Oktober itu hari ultahnya adeq aq…😛

    thanks,
    http://www.boisterousgirl.wordpress.com

    Visit balik dunkz…

    Bagi kueenya donk

  7. Ada yg kurang sahabat
    Banner lomba nulisnya belum terpajang🙂

    Terima kasih koreksinya mas, tadinya bingung mo nempel dimana🙂

  8. Tulisan yang sangat menggugah “ke PEMUDA an” pembacanya…
    tetap menulis ya mas….. jangan bosen, tetap istiqomah, semoga barokah.

    YO I

  9. Salut ..

    Terima kasih.

  10. saya malah waktu tanggal 28 Oktober kemaren itu hari Sumpah Pemuda kalo saja tidak bertemu orang yang berbaju korpri (doh) abis pemuda sekarang gampang sekali diprovokator. dikit-dikit demo, teriak-teriak ga jelas, bukannya cari solusi. dikit-dikit tawuran, demi mempertahankan yang katanya nama baik, padahal berantemnya sesama sodara sendiri..

    jadi, sumpah pemuda? apa itu?

    ha…ha…ha…🙂 kalo berantemnya ama saudara sendiri biasanya cepat akurnya kok. Ya…. namanya saudara. Mungkin “Bapak” – “Ibu” nya kurang perhatian.

  11. dianasafitri Says:

    the youth of today are the leaders of tomorrow.., love all serve all is the call to all. non violence, love and peace right conduct and truth, the guiding light for one and all…

  12. […] Berhubungan dengan : 1. Sumpahnya Seorang Pemuda […]

  13. […] Yang pernah ditulis :  My Hero | Sumpahnya Seorang Pemuda | […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: