Sekarang [2 Mei] Hari Pendidikan Nasional [ya]?

Ya,  tulisan ini di poskan di penghujung malam, sedikit refleksi mudah-mudahan tidak bias . Sudah berapa tahun Hari Pendidikan di negeri ini diperingati? Haiiyah… kok malah nanya toh yo🙂

Sepertinya tidak sedikit orang yang lupa bahwa hari ini lahirnya tokoh nasional Ki Hajar Dewantara (baca; Sunda), Ki Hajar Dewantoro (woco; Jowo), betul…tidak?  dan  Esok hari, 3 Mei adalah hari ke-123 (124 di tahun kabisat). Hanya sekedar mengingatkan dengan ilmu gathok (baca: cocok/pas) bahwa biasanya  angka 1, 2, 3 digunakan sebagai aba-aba/tanda untuk melaksanakan perintah. Tanda untuk apa? Tanda tanya? Hehehe….

Nduk, sinau sing pinter yo, ngko amalno kanggo wong liyo

Sistem pendidikan di negeri ini masih disibukkan  dengan berbagai persoalan, mulai dari dana BOS sampai ngulik kurikulum yang selalu bongkar-pasang dan trial & error. Bahkan  Proses pendidikan yang terlalu mekanikpun masih ada, hal ini harus dihindari untuk bisa lebih dalam memahami proses. Sejak kecil, mungkin juga masih  di dalam perut bunda, orang tua sudah berencana dengan buah hatinya. Meskipun Anak bagaikan secarik kertas putih, tapi tidak serta merta orang tua “mencoret” dan “menggambar” yang ada di benaknya. Selalu memberikan asupan, bekal bagi anak kelak akan menjadi manusia yang mempunyai nilai luhur dan mulia, tidak hanya mencari pendidikan untuk mendapatkan mata pencaharian. Yang terpenting adalah tujuan dari kehidupan itu sendiri.

Mendengar cemoohan , cibiran dan kritikan yang berpandangan sempit  tentang  dunia pendidikan di negeri  ini seakan melepar bumerang di tanah lapang. Lihay melempar  bumerang  karena tahu cara memainkannya, bagaimana jika yang belum pernah melempar bumerang, bisa jadi luka yang ada di antara kita. Ya begitulah, kadang yang mempunya skill tidak mau dan enggan berbagi, seolah-olah dialah yang jago, tapi awas jika mbleset, bumerang itu akan mengenai orang lain. Sungguh, beban yang di pikul di pundak para pendidik di negeri ini sangatlah berat, code building yang disampaikannya sebagai kekuatan konstruksif yang berkarakter  bagi anak didik mau tidak mau harus tersampaikan dan dipahami, kalau korup sedikit saja bangunan lama-lama akan retak, reyot, runtuh dan hancur. Siapa yang salah?

Pertanyaan mungkin timbul tentang siapakah yang bertanggungjawab terhadap hal ini. Tidak seorangpun dapat disalahkan. Para orang tua di rumah dan masyarakat, para pendidik dan para pemimpin bangsa, semuanya bertanggungjawab. Seperti halnya suatu bangunan yang sering disebut; Bangunan yang berkarakter, Bangunan yang  di bangun dari pengetahuan, nilai seni, estetika yang melekat. Dari diri, keluargalah kita mulai membangun karakter untuk kehidupan yang bermanfaat.

Salam buat dunia pendidikan di negeriku🙂

9 Tanggapan to “Sekarang [2 Mei] Hari Pendidikan Nasional [ya]?”

  1. sudah bukan saatnya mencari siapa yang salah
    saatnya untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun,
    setidaknya kita mulai dari lingkungan terkecil sendiri dulu,
    semoga dapat memberi warna baru bagi dunia pendidikan di negeri ini.

    ya, aku bersepakat dengan hal itu🙂

  2. Dengan memperingati HARDIKNAS, semoga pendidikan kta menajdi baik seperti apa yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro

    Amin. Semoga cita tercapai

  3. Semoga pendidikan di Indonesia lebih baik😀

    Amin. begitu juga dengan jualan obatnya semakin laris😀

  4. Mestinya pelm laskar pelangi, 3 idiots perlu di tayangkan ya

    hehehe… boleh..boleh..boleh

  5. Pendidikan dini dimulai dari lingkungan keluarga, sementara pendidikan formal bisa diperoleh lewat bangku sekolah. Kalau mengacu pada UUD RI 1945 setiap warga berhak mendapatkan pendidikannya sehingga yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan formal adalah negara. Tetapi masih banyak anak usia sekolah yang belum dapat mengenyam bangku sekolah karena kemiskinan dan ketidakmampuan terutama di daerah pedalaman sana. Belum lagi gedung sekolahnya, banyak yang roboh dan memprihatinkan kondisinya.

    ya… begitulah adanya ketika karakter pengelolanya masih mengedepankan kepentingan sendiri dan golongan, tapi kita harus tetap optimis dengan adik2 kita yang akan membangun negeri ini dengan karakternya🙂

  6. Betul..betul..betul..tanggung jawabnya sama-sama, antara orang tua, pendidik, dan masyarakat sekeliling. Sekolah mungkin identik dengan penanaman pembelajaran utama berbasis IQ, nah, memback up nya, keluarga dan masyarakat sekeliling akan membantu mengembangkan nilai2 sosial / etika yang tadinya dipelajari di sekolah, demi pula, menyumbangkan kontribusi EQ pada pembelajar.

    Salam Kreatif dee🙂

    dan tak kalah pentingnya adalah SQ 🙂

  7. Semoga sistem pendidikan negeri kita tercinta makin membaik dari hari ke hari🙂

    Amin. semoga tercapai tujuan itu🙂

  8. Yap, agak prihatin juga ya dengan sistem pendidikan Indonesia. Huhu >.<

    hehehe… kalo masih “agak” masih mendingan d’🙂

  9. ilyasafsoh.com Says:

    Tujuan Akhir yang harus dikejar sobat,

    ..
    tujuan Akhir pendidikan kita seperti apa sobat ???

    mafia pendidikan …
    sering membisniskan pendidikan ….

    entahlah

    ya, ntahlah, setiap orang mempunyai tujuan hidupnya masing2 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: