Tanpa Halaman Depan

Posted in Manajemen Diri, Story, namakuananda, renungan dengan kaitan (tags) , on Februari 6, 2010 by namakuananda

Pak  Parjo yang dianggap sesepuh kampung oleh warga ternyata tidak ‘mbelezet’, sesepuh berarti menjadi orang tua yang bisa menjadi teladan bagi warganya. Tidak pernah nampak raut wajahnya yang sudah berumur itu setua umurnya. Sumringah dan grapyak kepada semua tetangga bahkan orang yang baru dia kenal, menandakan kematangan jiwa yang sudah terasah sekian tahun. Hidup yang sederhana dan tidak neko-neko  membuat warga menjadi respek dan sangat menghormatinya. Pak Parjo, begitulah beliau.

Gotong royong sebagai symbol kekeluargaan dan saling membantu kepada sesama selalu ditunjukkan beliau dengan sikap tanpa banyak bicara. Ringkes dan trengginas, cekatan dalam bertindak.  Selalu mendengarkan pembicaraaan  dengan penuh pengertian tanpa sesekali memotong pembicaraan orang lain dan ketika  diminta pendapat , beliau selalu berbicara santun, tidak keras namun suara lirih itu selalu terdengar dengan jelas. Pak Parjo pernah bertutur,”Memang gampang memberi nasehat, tapi jika kita tidak pernah melakukannya seperti yang kita ucapkan, tak seorangpun akan memperhatikan kita.” Tanpa pernah membandingkan dengan orang lain, beliau memang sesepuh yang penuh pengertian. Menghormati pendapat orang lain walau berbeda dengan sikapnya dan selalu mengendalikan dari rasa angkuhnya dan menjalani seperti yang beliau ucapkan. Pak Parjo.

Tutur kata yang santun, tanpa di lebih-lebihkan dan dikurangi, selalu hadir di setiap pertemuan atau hanya sekedar obrolan ringan. Tak pernah berdebat dan membuat persoalan menjadi berbelit, karena Pak Parjo sadar akan usianya yang sudah uzur. Tak ada yang menang dalam berdebat, kawan menjadi lawan dan mungkin juga cinta berubah menjadi ketidakpedulian karena rasa kecewa yang dalam di setiap kalimat yang terlontar dalam berdebat ataupun argumentasi. Hari ini kita merasa menang dalam berdebat/argumentasi tapi esok hari apa iya argumentasi itu berlogika cerdas. Belajar mendengarkan  orang lain, itulah sosok Pak Parjo.

Kritik, bukan mencari kesalahan orang lain jika memang hal yang dianggap keliru selalu diterabas dilakukannya tuk sekedar menjalakan proses tukar gagasan/pesan. Komunikasi cerdas Pak Parjo sangat elegan, seumuran beliau rentan terhadap kalimat menyudutkan, kasar dan bahkan berbau SARA, tapi beliau selalu tersenyum dan menanggapinya dengan pengalaman hidupnya. Sebagai manusia,  sakit hati juga dirasakannya tapi tak ada guna, suara yang terlontar hanyalah getaran yang tertangkap di indera pendengaran kita. Tak ada suara yang buruk, mungkin hati kita yang menerima sinyal itu dan mengolahnya menjadi sesuatu yang kurang  baik.

Pak Parjo. Kita, Kami,  itulah kata yang sering terdengar di setiap pembicaraannya. Jarang sekali kata ‘Aku’ atau ‘Saya’  terucap di setiap pembicaraannya. Beliau selalu melibatkan orang lain dalam berbicara, kalopun terucap kata ‘Saya’, beliau bercerita  sesuatu yang sangat pribadi . Karena beliau menganggap, kehidupan ini tak akan lepas dari orang lain. Karena pengertiannyalah, Pak Parjo mengabdi di kampung sekian tahun tanpa terucap kata yang angkuh dan kesan menonjolkan diri. Pengabdian dan keikhlasan beliau  bisa di lihat dari sikap, tutur kata dan hati yang tulus dalam keseharian. Pak Parjo tidak butuh ketenaran dan sanjunagan, beliau hanya butuh kedamaian di kampung dan cinta sesama.

Tanpa Halaman Depan hanyalah cerita fiktif, kurang lebihnya mohon maaf ya Pak Parjo :)

Dari Bung Tomo sampai Bungkusan Gombal

Posted in Manajemen Diri, artikel, pendidikan, renungan dengan kaitan (tags) , , , , , on November 10, 2009 by namakuananda

Pahlawan, siapakah yang pantas di sebut pahlawan?

Sedikit kilas balik 64 tahun yang lalu, tepatnya 27 Oktober 1945 pertempuran di Kota Surabaya tak pelak dapat dihindari lagi, sekutu yang dimotori tentara Inggris menggandeng tentara Belanda menyerang Kota Surabaya dengan alas an bahwa tentara sekutu telah menang dan Belanda bagian sekutu, maka pemerintah belanda berhak mendirikan pemerintahan Hindia Belanda Republik Indonesia.

Singkat kata, setelah tewasnya Brigjen Mallaby di Gedung Internatio akibat mobil yang ditumampanginya meledak, Mayjen Mansergh sebagai pengganti brigjen Mallaby mengeluarkan ultimatum sampai dengan batas jam 6 pagi 10 Nopember 1945 yang berisi bahwa semua orang pimpinan dan orang Indonesia harus meletakan senjata dan menyerahkan diri. Karena dianggap tak menghiraukan ultimatum sekutu, pagi itu juga tentara sekutu melancarkan agresi dengan kekuatan penuh di setiap sudut kota. Pertempuran sengit di kota Surabaya yang sekarang di kenal sebagai Kota INDAMARDI (Industri Dagang Maritim dan Pendidikan). Tak sedikit Harta dan nyawa dipertaruhkan untuk membela bumi pertiwi , Indonesia. Sebagai perwujudan mempertahankan kemerdekaan, Bung Karno RI. 1 pada tanggal 10 Nopember 1950 menganugerahkan kota Surabaya sebagai kota Pahlawan. Baca selebihnya »

Tertipu gambar sendiri

Posted in Story, artikel, desain grafis, media pembelajaran, pendidikan, software dengan kaitan (tags) , on November 7, 2009 by namakuananda

Lho lho lho lho . . . gambar meja kok begitu hahaha . . ., coba deh perhatikan gambar meja yang di gambar dengan menggunakan aplikasi corel draw di bawah ini dengan seksama. Pasti ada yang aneh.

Masih ingat dibenak ketika SD dulu belajar menggambar tentang bentuk sederhana, Persegi panjang, bulat, kotak, kubus, kerucut dsb. Menggoreskan pensil dengan atau penggaris di kertas gambar dengan hati-hati dan sesekali melihat contoh gambar yang ada cukup memberi nilai tersendiri saat itu. Ketika menggambar bentuk sederhana, secara tak sadar gambar yang sedang kita kerjakan sudah mengirim sinyal beberapa kb memori ke otak. Hal itu memungkinkan kita mengingat bentuk itu sampai sekarang. Baca selebihnya »

Aku ingin jadi anak band

Posted in Story, musik, pendidikan dengan kaitan (tags) , , , on Oktober 31, 2009 by namakuananda

Aku anak band, itulah keinginan yang dilampiaskan 4 bocah di taman bermain area sekolah siang itu. Sebut saja keempat bocah itu Akbar, Arif, Dion dan Diki. Baju seragam yang mereka kenakan masih lengkap kecuali sepatu yang tidak mereka kenakan. Tidak salah lagi, mereka memang anggota marching band Sekolah Dasar Insan Teladan Bogor, terlihat ekspresi Dion saat menggebuk tempat untuk menyiram tanaman yang terbuat dari plastic, Akbar memegang sapu yang dijadikan stand mic, Diki seolah memetik gitar dengan jarinya yang lentik menggunakan gagang aluminium pembersih lantai dan Arif meniup terompetnya yang terbuat dari corong. hahahaha . . . ada- ada aja ekspresi mereka. Baca selebihnya »